Viraguna: Kendala dan Hambatan Dihadapi Perekonomian Bali (3)

Krisis ekonomi yang dialami Bali telah membuat ekonomi Bali terpuruk akibat pukulan dahsyat terhadap industri pariwisatanya.

Denpasar (bisnisbali.com) –Krisis ekonomi yang dialami Bali telah membuat ekonomi Bali terpuruk akibat pukulan dahsyat terhadap industri pariwisatanya. Itu karena industri pariwisata adalah andalan utama rakyat Bali.
Pemerhati ekonomi Viraguna Bagoes Oka mengatakan selain pariwisata, kebutuhan bahan pokok Bali yang sangat tergantung kepada pasokan logistik dari luar Bali juga ikut berpengaru. Sebab, sektor pertanian Bali tidak mampu memenuhi kebutuhan bahan pokoknya dari waktu ke waktu sebagai akibat menjamurnya pengkonversian lahan pertanian produktif menjadi hotel atau villa.
Akibatnya saat ini resesi ekonomi atau bisnis di Bali mendekati stadium depresi yang cukup menghawatirkan. Belum lagi dalam catatan resmi pemerintah terkini masih terdapat peningkatan penyebaran virus covid-19 di beberapa wilayah antara lain, Bali Utara dan zona merah di Bali Timur.
Mantan Kepala KPw BI Bali ini menyebutkan kendala lainnya yang dihadapi Bali adalah di bidang transportasi dan pelayanan publik yang mencerminkan situasi tidak kondusif . Contoh, terjadinya antrean panjang truk logistik di penyeberangan Ketapang, kewajiban rapid test mandiri berbiaya tinggi serta ketatnya pengawasan di airport Ngurah (dengan kewajiban rapid test dan swab) untuk jangka waktu yang tidak pasti berpotensi memperburuk derap langkah ekonomi Bali dan resesi Bali dapat menuju tingkat depresi yang belum pernah terjadi selama ini.
Viraguna menilai hambatan terbesar yang dihadapi masyarakat dalam adaptasi kebiasaan normal baru antara lain masyarakat yang belum responsif, kurang keperdulian, kebiasan buruk dan perilaku yang tidak disiplinnya masyarakat (low sense of urgency and low sense of sensitivity of public) sebagai akibat latar belakang dan beragamnya pemahaman atau pendidikan sebaga kendala utama bersama.
Resesi yang dihadapi Bali saat ini dengan pertumbuhan ekonomi tercatat negatif 1,49 persen pada kuartal pertama, diprediksi akan tetap stagnan bahkan berpotensi semakin buruk pada kuartal kedua hingga kuartal ketiga 2020 jika rapid test dan swab belum bisa distop.
“Atau Bali belum bisa dinyatakan bebas covid19 oleh Pemerintah Propinsi Bali,” ucapnya.*dik/bersambung

BAGIKAN