Vaksinasi Pelaku Pariwisata Tumbuhkan Kepercayaan Wisatawan

Vaksinasi Covid-19 bagi pelaku pariwisata di Bali diyakini membawa pengaruh positif bagi pelaku usaha dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata.

Mangupura (bisnisbali.com) – Vaksinasi Covid-19 bagi pelaku pariwisata di Bali diyakini membawa pengaruh positif bagi pelaku usaha dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata. Dengan upaya tersebut, diyakini kepercayaan diri wisatawan untuk berkunjung ke Bali dapat meningkat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho, di Nusa Dua, Sabtu (27/2) lalu, mengatakan keberhasilan program vaksinasi secara tidak langsung akan memiliki efek cukup besar bagi pemulihan sektor-sektor yang sangat terdampak pandemi. Ia pun melihat kasus-kasus di luar negeri setelah melakukan vaksinasi, kasus Covid-19 mengalami penurunan. Itu membuktikan pemberian vaksinasi berdampak terhadap penanganan Covid-19.

“BI sudah mencari cara, salah satunya melalui free Covid-19 corridor (FCC) dan akhirnya caranya dengan vaksinasi. Semakin cepat menyelesaikan vaksinasi dan herd immunity 70 persen akan membuat rasa percaya diri bagi traveler,” ujarnya.

Berapa besar dampaknya? Kata Trisno, vaksin ini baru sekali disuntikkan. Untuk itu, perlu melihat setelah dua kali suntikan atau sebulan sampai dua bulan ke depan. Vaksinasi bagi pelaku pariwisata pun diharapkan agar pelaku hotel sehat. Oleh karenanya, orang-orang di bandara dan maskapai Garuda perlu juga divaksinasi biar aman.

“Dengan adanya vaksinasi maka orang-orang yang sebelumnya takut ke Bali karena virus bisa lebih tenang. Sebab orang yang punya uang masih peer to travel karena belum merasa nyaman. Kalau sudah divaksin dan FCC bisa terselenggara maka mereka akan senang,” paparnya.

Terkait FCC, Trisno menyebut, saat ini masih dalam tahap pembicaraan mengingat ada aturan dari negara luar maupun provinsi lain sehingga tentu penerapan ini masih memerlukan waktu. Oleh karena itu, solusi saat ini mengarah ke wisatawan domestik. Mendatangkan wisatawan domestik tentu dengan terlaksananya vaksinasi. Ia pun menyebutkan dengan melihat data wisdom yang outbond kurang lebih bisa 11 juta orang berdasarkan historis 10 terakhir dan spending tinggi 11-12 miliar dolar AS. Sementara di Bali kisaran 9,3 juta orang.

“Jika dari 11 juta orang itu, 50-60 persen bisa ke Bali maka spending money-nya akan lumayan dibandingkan mengarah ke wisman yang masih proses. Ini pula melatari Jawa dan Bali divaksin pertama, harapan bisa membangkitkan Bali,” ucapnya.

Mendukung pertumbuhan wisaatwan domestik tersebut, pihaknya pun mengusulkan ke Menparekarf agar ada meeting-meeting work from Bali. Apalagi bila didukung juga dari Kementerian di Jakarta termasuk top-top BUMN bisa ke Bali maka akan lumayan menumbuhkan dunia usaha tidak hanya hotel namun juga souvenir dan UMKM.

“Harapannya kita vaksinasi ini bisa dipercepat. Bila  sebulan bisa 5.000-7000 orang maka kasus bisa rendah. Bila vaksinasi bisa mencapai 10 ribu orang maka hasilnya akan lumayan bagi pertumbuhan ekonomi,” paparnya. Apalagi BI Bali telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari semula 4,5 persen hingga 5,5 persen menjadi 3,5 persen sampai dengan 4,5 persen.

Seperti diketahui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Sandiaga Uno, Sabtu (27/2) lalu, meninjau kesiapan peresmian program vaksinasi menggunakan pendekatan berbasis teknologi. Pusat vaksinasi di Bali akan menjadi pusat vaksinasi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara dengan pilihan layanan drive-thru.

“Pilihan vaksinasi dengan metode drive-thru menjadi solusi yang penting untuk mengatasi pandemi dan mempercepat proses vaksinasi bagi ribuan pekerja pariwisata di Bali. Hari ini merupakan kesempatan yang sangat luar biasa bagi saya untuk dapat melihat jalannya Grab Vaccine Center di Bali,” katanya. *dik

BAGIKAN