Vaksinasi Kian Luas, Perekonomian Diperkirakan Pulih Lebih Cepat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang, perekonomian sejumlah negara yang masih terkontraksi sepanjang tahun 2020 masih berimbas pada perekonomian Indonesia.

VAKSINASI – Seorang pengendara mengikuti vaksinasi Covid-19 di pusat vaksinasi dengan drive-thru di Nusa Dua.

Denpasar (bisnisbali.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang, perekonomian sejumlah negara yang masih terkontraksi sepanjang tahun 2020 masih berimbas pada perekonomian Indonesia. Namun demikian, outlook ekonomi ke depan diperkirakan membaik. “Itu seiring penurunan laju infeksi harian secara global dan vaksinasi global yang semakin luas,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso belum lama ini.

Hal itu sejalan dengan kebijakan fiskal dan moneter akomodatif yang terus dijalankan berbagai negara untuk mendukung pemulihan ekonomi. IMF memperkirakan perekonomian global tahun 2021 akan pulih lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Menurutnya, perkembangan positif tersebut mendorong pasar keuangan global termasuk Indonesia menguat di Februari 2021. Sampai dengan 19 Februari 2020, IHSG menguat sebesar 6,3 persen (mtd). Namun, aksi risk on investor menyebabkan pasar SBN sedikit tertekan dengan rata-rata yield SBN naik sebesar 9,4 bps mtd. Investor nonresiden mencatatkan net buy di pasar saham sebesar Rp 2,49 triliun dan di pasar SBN sebesar Rp 6,5 triliun mtd (ytd pasar saham: net buy Rp13,43 triliun; ytd pasar SBN: net buy Rp19,9 triliun).

Dari sektor perbankan, dana pihak ketiga (DPK) di Januari 2021 tumbuh double digit sebesar 10,57 persen yoy. Sementara itu, walau kredit perbankan terkontraksi -1,92 persen (yoy) namun tren pertumbuhannya mengindikasikan perbaikan dari bulan sebelumnya, terutama didorong oleh bank BUMN dan BPD yang tumbuh masing-masing 1,45 persen dan 5,68 persen (yoy).

Di industri keuangan non-bank, piutang perusahaan pembiayaan terkontraksi sebesar -18,6 persen (yoy), terutama disebabkan oleh sektor rumah tangga seiring dengan masih rendahnya demand. Sementara itu, premi asuransi yang dihimpun industri asuransi tercatat naik tinggi sebesar Rp 30,4 triliun. Di mana asuransi jiwa Rp 19,1 triliun, asuransi umum dan reasuransi Rp 11,3 triliun dan fintech P2P Lending November 2020 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp 15,34 triliun atau tumbuh sebesar 13,5 persen (yoy).

Sementara, di pasar modal hingga 23 Februari 2021 jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten mencapai 16, dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp 11,01 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 4 di antaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 67 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp 22,55 triliun.*dik

BAGIKAN