UMKM Rentan Terpengaruh Penurunan Wisman Tiongkok

Epidemi virus corona sudah menjadi perhatian dunia karena berdampak pada sentimen pasar global.

Denpasar (bisnisbali.com) –Epidemi virus corona sudah menjadi perhatian dunia karena berdampak pada sentimen pasar global. Tidak hanya itu, turunnya jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali rentan berpengaruh pula pada penjualan produk maupun pendapatan UMKM.

“UMKM pendukung sektor pariwisata tentu rentan terpengaruh dari penurunan jumlah kunjungan wisman Tiongkok ini,” kata pemerhati ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Prof. Wayan Ramantha di Renon, Rabu (5/2) kemarin.

Ia mengatakan, kasus virus corona memang diwaspadai adanya dampak ekonomi global, khususnya pada sektor pariwisata dan investasi yang dinilai berpotensi dapat terganggu. Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I tidak serta merta turun karena epidemi virus corona dan penurunan wisatawan Tiongkok. Secara historis pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I memang tidak tinggi karena proyek-proyek pemerintah belum terealisasi.

“Tetapi dengan ada pengaruh virus corona yang menjadi sentimen global tentu tambah turun. Terlebih Tiongkok penyumbang wisatawan kedua tertinggi bagi Bali,” ujarnya.

Apa yang harus dilakukan menyikapi hal ini? Guru Besar FE Unud ini mengatakan, yang harus dilakukan diversifikasi negara asal wisman, jangan menggantungkan pasar pariwisata dari satu atau dua negara saja. Selanjutnya melalukan diversivikasi sektor ekonomi, tidak hanya mengandalkan pariwisata, sektor industri yang di urutan kedua penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB) harus dibina lagi, demikian juga sektor pertanian yang penyumbang ketiga PDRB.

Disinggung kendala UMKM tidak hanya dari sisi kondisi global semata, susahnya mendapatkan modal dari perbankan juga masih terjadi, satu sisi bank juga lagi ketat menyalurkan kredit karena menekan kredit macet, Ramantha melihatnya karena kondisi ini lebih disebabkan oleh prudent-nya bank yang ketakutan rasio kredit masalah atau nonperforming loan (NPL)-nya meningkat.

Sementara itu Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Trisno Nugroho menilai tidak bisa memastikan kasus virus corona yang terjadi saat ini akan berimbas pada perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali terpengaruh atau tidak harus melihat satu dua bulan ke depan.

“BI harus menghitung, mengevaluasi dan menganalisis dampak virus corona terhadap pertumbuhan ekonomi Bali,” katanya.

Menurutnya, bila melihat ke belakang jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali berada di urutan nomor dua kurang lebih 1,2 jutaan wisman. Dengan adanya penerbangan dari/ke Denpasar-Wuhan telah dibatalkan tidak dipungkiri ada dugaan menyebabkan penurunan wisatawan Tiongkok ke Pulau Bali. Dengan kondisi ini, kata Trisno tentunya Pemprov Bali maupun BI akan mendukung pengembangan pasar-pasar lain untuk akeselerasi menutup penurunan jumlah kunjungan ini.

“Di bawah pasar Tiongkok ada India, Eropa, Amerika. Pasar ini perlu digenjot sales mission selain pasar tradisonal Australia tetap dipromosikan,” jelasnya.

Dengan menggenjot pasar selain Tiongkok optimis bisa menutupi penurunan kunjungan dari Tiongkok. Bank sentral pun melihat tidak hanya Indonesia saja yang akan melakukan ini, negara lainya juga melakukan hal sama dari kejadian kasus corona. *dik

BAGIKAN