UMKM Diminta Ubah Pola Pemasaran  

gar mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19, para pelaku UMKM di Kabupaten Tabanan diminta terus bergerak atau berproduksi.

Tabanan (bisnisbali.com) –Agar mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19, para pelaku UMKM di Kabupaten Tabanan diminta terus bergerak atau berproduksi. Namun, diperlukan perubahan pola atau merestart pangsa pasar dan cara pemasaran.

“Usaha di tengah pandemi ini harus terus bergerak, jangan sampai mandek, meski dalam kapasitas kecil. Namun, untuk terus bergerak ini ada pola yang harus disesuaikan pelaku usaha dengan kondisi pasar saat ini,” kata Ketua International Council For Small Business (ICSB) Kabupaten Tabanan, Bali, Bagus Arya Kusuma, S.Sos, M.M., Kamis (12/11).

Sesuai data Dinas Koperasi dan UMKM Tabanan, jumlah UMKM di Tabanan saat ini mencapai 40 ribu UMKM. Di tengah pandemi Covid-19, masih ada celah bagi pelaku usaha untuk tetap eksis. Namun memang untuk itu ada pola usaha yang harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Penyesuaian pertama adalah menyangkut pangsa pasar. Sebelumnya, pemasaran produk fokus ke kalangan hotel maupun sektor pariwisata, namun sekarang pangsa pasar tersebut dialihkan untuk konsumsi masyarakat lokal. Kondisi ini juga berlaku bagi UMKM yang sebelumnya memiliki pangsapasar ekspor harus beralih dengan memanfaatkan pemasaran produk di dalam negeri.

“Penyesuaian pangsa pasar ini juga dibarengi dengan komposisi atau isi kemasan yang lebih kecil dari sebelumnya. Sehingga dengan harga yang lebih terjangkau dari sebelumnya, membuat serapan pasar masih tetap terjadi di tengah menurunnya daya beli konsumen saat ini,” ujarnya.

Kata CEO Padma Herbal ini, penyesuain kedua adalah terkait cara pemasaran yang mau tidak mau di tengah pandemi Covid-19 para UMKM harus segera beralih dengan memanfaatkan platform digital. Saat ini, pelaku usaha harus dituntut familiar menggunakan sosial media dan platform digital lainnya sebagai pemasaran secara online. Selain itu, pelaku UMKM juga dituntut untuk lebih kreatif untuk menarik pasar untuk berbelanja melalui sejumlah konten yang menarik menyangkut produk.

Saat ini, pemanfaatan platform digital di kalangan UMKM di Tabanan ini memang sudah beberapa mulai mengadopsi, namun secara persentase jika dibandingkan dengan total jumlah UMKM yang ada mencapai 40 ribu ini masih sangat kecil. Sebab, ada sejumlah kendala yang mereka hadapi di antaranya, sinyal internet yang belum menjangkau semua daerah di Kabupaten Tabanan dan susahnya untuk memanfaatkan teknologi tersebut karena pelaku UMKM bersangkutan sudah berusia uzur.

“Sebagian besar pelaku UMKM di Tabanan ini masih mengandalkan pola–pola tradisional. Paling canggih mereka memanfaatkan teknologi sebatas menggunakan pemasaran melalui FB, dan WA saja,” tandasnya.

Bercermin dari kondisi tersebut, pemanfaatan pemasaran menggunakan platform digital di kalangan UMKM di Tabanan ini masih perlu digenjot lagi. Ini merupakan PR besar bagi pemerintah khususnya Dinas Koperasi dan UMKM Tabanan agar lebih cepat kalangan UMKM ini menguasai media online dalam pemasaran produk. “Kami sendiri juga melakukan pendampingan ke UMKM, namun dengan jumlah UMKM yang cukup banyak ini, tentu upaya itu kurang optimal dilakukan,” kilahnya.

Ditambahkannya, kemasan maupun isi produk yang dihasilkan oleh pelaku UMKM di Tabanan sangat kreatif dan bernilai jual, namun sayangnya masih terkendala pada susahnya menembus pasar. Sebab itu ia menilai, di antara pelaku UMKM ini juga harus saling support dengan cara membeli produk teman, sehingga uang yang beredar hanya berputar di antara teman dan itu akan membuat terjadinya peningkatan usaha secara bersama-sama.*man

BAGIKAN