UMKM di Bali Cepat Beradaptasi

Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia, termasuk Bali.

AKSESORI - Seorang pengunjung tengah melihat-lihat aksesori yang dipajang di toko di Pasar Kumbasari. (photo by eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia, termasuk Bali. Kontribusinya kurang lebih 50 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Indonesia dan Bali.

“Di era pandemi ini UMKM merupakan sektor yang terkena dampak di awal pandemi akibat menurunnya permintaan sebagai akibat pembatasan kegiatan masyarakat,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho di Renon, Senin (25/1).

Menurutnya, setelah lebih dari enam bulan, UMKM lebih fleksibel. UMKM bertahan mengingat mereka mampu secara cepat berkreasi dan berinovasi menyesuaikan kondisi di tengah pandemi Covid-19. UMKM yang juga menjadi penyerap tenaga kerja cukup banyak dan pada akhirnya menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan di masa pandemi dan menjadi penopang ekonomi masyarakat.

Khusus di Bali, setelah industri pariwisata mengalami penurunan, UMKM mampu menyediakan lapangan usaha baru bagi masyarakat untuk bertahan di masa pandemi, selain pelaku UMKM yang telah ada selama ini. Trisno menyebut, untuk menjaga dan melindungi UMKM maka perlu upaya bersama untuk menjaga semangat dan motivasi untuk terus berproduksi dan menjaga penjualan produk-produk UMKM.

Untuk itu, upaya bersama yang telah dilakukan pemerintahan pusat, pemda, perbankan dan instansi atau lembaga di daerah dalam membantu UMKM terdampak pandemi. Hal itu di antaranya, stimulus relaksasi kredit, bansos, pelatihan dan promosi produk-produk UMKM dalam berbagai event. “Semua itu dimaksudkan untuk membantu sektor UMKM mampu bertahan tidak hanya di masa pandemi Covid-19, namun dengan bantuan-bantuan tersebut UMKM dapat naik kelas menjadi sektor usaha yang lebih besar,” ujarnya.

Apakah cukup dengan restrukturisasi maupun bantuan stimulus atau BLT? Trisno menilai tentunya program restrukturisasi dan bantuan stimulus saja tidak cukup, masih diperlukan lagi upaya untuk membantu UMKM dalam meningkatkan jumlah dan kualitas produksi, promosi produk, memperkenalkan saluran pemasaran (menggunakan media sosial dan market place) yang menggunakan platform digital, serta bantuan agar UMKM mudah pula mendapat akses ke sektor perbankan.

Oleh karenanya, UMKM harus tetap berupaya bertahan, tetap berproduksi, kreatif dan inovatif untuk membuat  produk yang sesuai di era pandemi ini. “Misal UMKM endek dan songket membuat masker yang menarik dan aman, serta harus memanfaatkan bantuan-bantuan dan pelatihan yang saat ini banyak disediakan oleh pemerintah pusat dan daerah, serta lembaga-lembaga pemerintah dan swasta,” ujarnya.

UMKM juga perlu memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pasarnya tidak hanya di Bali namun juga di luar Bali bahkan ke luar negeri.*dik

BAGIKAN