Ulun Danu Beratan Kembali Berlakukan  ’’Shift’’ Kerja

Menyikapi jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata yang turun tajam, pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan kembali memberlakukan shift kerja kepada karyawan dalam rangka efisiensi.

SEPI - DTW Ulun Danu Beratan sepi pengunjung.

Tabanan (bisnisbali.com) –Menyikapi jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata yang turun tajam, pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan kembali memberlakukan shift kerja kepada karyawan dalam rangka efisiensi. Sebelumnya, pada akhir Desember 2020 lalu, manajemen sempat memanggil kembali karyawan untuk bekerja secara penuh seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Manajemen Operasional DTW Ulun Danu Beratan, I Wayan Mustika, Senin (25/1) kemarin, mengungkapkan, jumlah kunjungan ke DTW Ulun Danu Beratan kian menurun terlebih lagi sejak diberlakukannya PPKM. Hal itu tercermin dari rata-rata per hari kunjungan yang hanya mengantongi 50 sampai 75 orang per hari. Dari jumlah kunjungan tersebut, beberapa di antaranya merupakan wisatawan dari luar Bali, baik secara rombongan dengan menggunakan bus maupun mobil keluarga.

Saat ini jumlah kunjungan jauh menurun dari tahun lalu. Rata-rata kunjungan wisatawan di tengah pandemi meski menurun, tapi masih bisa mengantongi 150 sampai 250 orang per hari, bahkan sempat melonjak ke angka ribuan orang per hari pada momen Nataru. “Kami tidak bisa berbuat banyak, apalagi dengan anggaran yang tidak memadai untuk biaya operasional,” tuturnya.

Dampaknya, pascadipanggil kembali untuk bekerja sejak pertengahan Desember 2020, saat ini  kembali diberlakukan pengaturan shift kerja karyawan. Yakni, seminggu tiga kali masuk kerja. Per hari hanya mengaktifkan 25 persen dari total jumlah karyawan yang ada.

“25 persen ini di antaranya merupakan penjaga tiket, perawatan kebun dan tenaga kebersihan toilet,” ujarnya.

Menurut Mustika, langkah tersebut sebagai upaya untuk menekan biaya operasional usaha di tengah minimnya angka kunjungan wisatawan. Katanya, saat ini biaya operasional usaha lebih difokuskan kepada penataan dan perawatan objek yang merupakan sisa hasil pendapatan pada momen Nataru lalu. Itu seiring dengan ramainya angka kunjungan pada momen Nataru lalu.

“Kini pendapatan itu kami manfaatkan seefisien mungkin untuk biaya operasional. Tapi kemungkinan dana yang ada hanya cukup hingga Maret saja. Setelah itu, kebutuhan operasional murni hanya akan tergantung dari jumlah kunjungan yang datang saat itu,” kilahnya.*man

BAGIKAN