UKM Indonesia harus Tingkatkan Daya Saing 

Usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia memiliki kelemahan dalam bersaing terkait pemasaran dan promosi sehingga dibutuhkan teknologi digitalisasi dan pemahaman terhadap teknologi itu sendiri.

UKM - Bazar aneka produk UKM binaan BEDO pada acara Annual Gathering 2019 di Jimbaran.

Mangupura (bisnisbali.com) –Usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia memiliki kelemahan dalam bersaing terkait pemasaran dan promosi sehingga dibutuhkan teknologi digitalisasi dan pemahaman terhadap teknologi itu sendiri. Untuk itu UKM bisa memanfaatkan platform media sosial untuk menjual barang dagangannya, sedangkan BEDO (Business & Export Development Organization) akan membuat suatu platform yang nantinya dapat menjadi hub informasi pelatihan atau business coaching bagi UKM.

Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Diplomasi Ekonomi, Ina H Krisnamurthi, ketika menghadiri acara pertemuan akhir tahun BEDO di Jimbaran, belum lama ini berharap UKM Indonesia bisa lebih bersaing dan masuk pasar dunia. “Sebenarnya, para eksportir UKM kita potensinya banyak tapi daya saingnya belum mencapai keinginan pasar global. Kemlu tidak secara langsung bersentuhan pada urusan domestik tapi kami selalu siap jadi fasilitator dan koordinator fungsi-fungsi diplomasi ekonomi. Kami pun mendukung kementerian/lembaga terkait untuk mendorong UKM Indonesia agar memiliki daya saing,” kata Ina.  Untuk pemasaran produk UKM, pihaknya menyampaikan tidak lagi fokus ke negara-negara tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa, tetapi kini prioritas ke pasar non tradisional seperti Afrika, Amerika Latin dan Asia Selatan karena memiliki kedekatan budaya dan sejarah dengan Indonesia.

Program Manager BEDO, Jeff Kristianto mengatakan sepanjang tahun 2019 ini pihaknya sudah banyak bekerja dengan berbagai pihak, baik perusahaan maupun kementerian. “Dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 90 anggota ini kami melaporkan seluruh kegiatan yang telah berjalan selama setahun, termasuk laporan keuangan yang telah diaudit kami paparkan kepada anggota,” ungkap Jeff. Ditambahkannya, hingga saat ini BEDO memiliki 220 anggota di seluruh Indonesia, dan sekitar 70 anggota di antaranya berada di Bali dengan jenis usaha seperti furniture, garmen serta produk olahan makanan dan minuman.  Serangkaian pertemuan ini diadakan focus group discussion tentang digitalisasi UKM, workshop, business coaching dan pelatihan produksi barang-barang kerajinan tangan serta mini bazar yang menjual barang-barang produksi anggota BEDO. Dimeriahkan pula peragaan busana bertema “RE” oleh desainer Dwi Iskandar (Dwico) yang sekaligus sebagai Chairperson BEDO. *dar

BAGIKAN