Tyto Alba Dinilai Efektif Antisipasi Hama Tikus

Hama berupa tikus telah mengakibatkan tanaman padi pada 300 hektar sawah di Subak Bengkel, Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Tabanan, mengalami kerusakan.

RUBUHA - Rubuha atau sarang tyto alba yang dibuat krama Subak Bengkel.

Tabanan (bisnisbali.com) –Hama berupa tikus telah mengakibatkan tanaman padi pada 300 hektar sawah di Subak Bengkel, Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Tabanan, mengalami kerusakan. Guna menangani serangan tikus, pengendalian hama dilakukan secara alami yakni dengan melepas liarkan burung tyto alba. Pelepasliaran burung pemangsa tikus ini mencapai empat ekor yang didatangkan dari kelompok konservasi di Tabanan.

“Upaya pengendalian hama tikus ini sudah pernah dilakukan sebelumnya. Namun, serangan hama tikus yang cukup ganas ini masih terus terjadi,” tutur Perbekel Desa Bengkel, I Nyoman Wahya Biantara, Minggu (29/11).

Menurutnya, konsep membasmi tikus secara alami lewat burung tyto alba sudah dilakukan sejak Agustus 2020. Saat itu diawali dengan memanfaatkan tiga ekor tyto alba diambil dari kelompok konservasi di Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan lalu dikarantina di rubuha yang sudah dibuat.

Setelah tiga ekor tyto alba ini dikarantina, mereka dilepasliarkan. Selama dikarantina tentu tyto alba tersebut dilatih untuk memakan tikus agar nanti ketika lepas bisa memangsa sendiri. Kata Biantara, saat ini total sudah ada empat ekor tyto alba yang sudah dilepasliarkan, dengan jumlah 22 rubuha atau sarang yang sudah dibuat oleh krama subak sekaligus untuk mengkarantina. “Jadi kami sarankan anggota subak untuk menggunakan tyto alba sebagai antisipasi pembasmi tikus jangka panjang,” ujarnya.

Harapannya, pelepasliaran tyto alba ini kedepan membuat Subak Bengkel bisa melakukan konservasi. Di sisi lain untuk proses pengawasan terhadap empat ekor tyto alba tersebut dilakukan oleh krama subak sendiri.

Ditambahkannya, selama kurang lebih dua bulan sudah melepasliarkan tyto alba, hasilnya dirasa lebih efektif dibandingkan dengan langkah pembasmian tikus sebelumnya yang menggunakan racun tikus dan gerakan pengendalian (gerdal) dengan mencari sumber tikus lalu dimusnahkan secara manual. Bercermin dari itu menurutnya, upaya ini merupakan program jangka panjang, karena hasil dari lepasliarkan tyto alba sebagai pembasmi tikus sangat efektif.

Rencananya, Subak Bengkel akan mengarah ke konservasi tyto alba. Hanya saja ini masih wacana karena perlu banyak pertimbangan yang harus disiapkan dalam melakukan konservasi. “Untuk konservasi tyto alba ini kita harus mulai dari tempat dan yang paling penting petugas yang bertugas untuk mengurus konservasi tersebut nantinya. Namun yang pasti, respons petani sangat bagus selama ini,” tandasnya.*man

BAGIKAN