Tunggu  Destinasi Dibuka, Hotel di Bali ”Megap-megap”

KEPALA Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa mengatakan, pemerintah tentunya sangat memahami keinginan pengelola akomodasi dan usaha pariwisata lainnya untuk segera membuka secara bertahap destinasi Bali.

Pasca menunggu kebijakan  dibukanya destinasi Bali, wisatawan menginginkan berwisata ke Bali. 

Pemerintah Provinsi Bali sampai saat ini belum memberikan kepastian kapan destinasi Bali akan dibuka. Sejauhmana dampaknya bagi destinasi Bali yang saat ini sudah dalam kondisi megap-megap karena pariwisata Bali yang tidak kunjung dibuka di tengah pandemi covid-19?

KEPALA Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa mengatakan, pemerintah tentunya sangat memahami keinginan pengelola akomodasi dan usaha pariwisata lainnya untuk segera membuka secara bertahap destinasi Bali. Belum ada kejelasan kapan pandemi corona (covid-19) akan berakhir membuat pemerintah berhati-hati mengeluarkan kebijakan membuka pariwisata Bali pascapandemi covid.

Astawa menyampaikan, harapan pelaku pariwisata Bali untuk pembukaan destinasi, sebaiknya menunggu deklarasi dari Gubernur Bali. Ini dikarenakan Gubernur Bali sedang masih fokus penanganan pandemi covid-19. “Sampai saat ini, perkembangan kasus covid-19  masih fluktuatif,” ucapnya.

Menurut Putu Astawa, sektor pariwisata Bali sudah dihadapkan dengan penanganan pandemi corona (covid-19). Dalam masa recovery seluruh stakeholder pariwisata Bali mesti menerapkan prosedur standar tatanan baru new normal. “Saat ini kita sedang mempersiapkan protokol kesehatan, sehingga pada saatnya mereka sudah siap,” jelasnya.

Wakil Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali, Made Ramia Adnyana mengatakan, hampir empat bulan tidak beroperasi kondisi destinasi khususnya akomodasi sudah megap-megap. Sebagian akomodasi dan usaha pariwisata di Bali yang lain terancam mati suri akibat ketidakpastian kapan pandemi covid-19 akan berakhir.

Meski tidak beroperasi akibat wabah covid-19, pengeluaran hotel masih cukup tinggi yakni sekitar 45 persen dari kondisi normal. “Pengeluaran sebesar itu untuk listrik, air dan maintenance lainnya termasuk salary karyawan yang dirumahkan,” ucapnya.

GM Hotel Sovereign Tuban ini meyakinkan,

usaha akomodasi sudah kesulitan untuk bertahan. Dalam masa penerapan tatanan new normal ke depan para pelaku di industri pariwisata yang tergabung di IHGMA berharap ada kebijakan pelonggaran agar hotel bisa beroperasi meski secara bertahap dan terbatas.

Pemerintah bisa segera membuat kebijakan dan SOP new normal. Pariwisata Bali sebenarnya sudah siap dengan kebijakan new normal tersebut. “Kita tak masalah menjalankan new normal, tinggal penambahan standar Covid-19 sesuai ketentuan WHO, hotel sudah siap sekarang dan menunggu time line, yang sampai sekarang belum ada,” tambahnya.

Ramia mengakui potensi wisatawan domestik (wisdom) sangat besar. Meski penularan lokal cukup tinggi. Namun dengan standar yang diberlakukan, ia yakin hal itu bisa diantisipasi. Demikian pula untuk turis mancanegara yang sangat menginginkan berwisata ke Bali.

Akomodasi khususnya hotel di Bali sudah tidak memiliki cashflow lagi. Sebagai solusi untuk mendapatkan cashbflow secara cepat pengelola akomodasi di Bali di antaranya menjual voucher kepada rekanan business dan travel agent dengan sistem bayar sekarang, menginap belakangan (berlaku sampai Desember 2021). Promosi yang bertajuk “Pay Now, Stay Later” ini cukup sukses memberikan pemasukan sehingga operasional hotel yang dipimpinnya masih bisa berjalan. “Promosi tersebut disebarkan kepada 3.000 agen pemasaran di Bali dan luar Bali yang selama ini diajak kerja sama, hingga akhir April 2020 sudah terjual 1.700 voucher dari target 7.000 voucher, kesuksesan H. Sovereign Bali juga diikuti sejumlah hotel di Bali dan di Surabaya, Jawa Timur,” tambah Ramia Adnyana. *kup

BAGIKAN