Triwulan III, Kinerja Investasi di Bali Diperkirakan Membaik

Investasi Bali pada triwulan II 2020 menunjukkan penurunan. Hal ini tercermin dari realisasi Domestic dan Foreign direct investment (DDI dan FDI) serta impor barang modal.

Denpasar (bisnisbali.com) –Investasi Bali pada triwulan II 2020 menunjukkan penurunan. Hal ini tercermin dari realisasi Domestic dan Foreign direct investment (DDI dan FDI) serta impor barang modal. Sementara memasuki triwulan III, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menilai kinerja investasi diprakirakan sedikit membaik, tercermin dari Likert scale investasi dari hasil liaison yang menunjukkan peningkatan.

“Selain itu, terjadi peningkatan optimisme pelaku usaha di mana terdapat peningkatan rencana investasi pada triwulan III 2020,” kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, M. Setyawan Santoso di Sanur, Rabu (14/10).
Menurutnya persepsi industri terhadap tatanan kehidupan baru yaitu 31,4% responden berencana melakukan merealisasikan rencana investasi di triwulan III 2020. Membaiknya investasi karena sudah ada komitmen pengerjaan sebelumnya namun tertunda karena adanya pandemic covid-19. Selanjutnya adalah investasi-investasi besar atau perusahaan besar seperti investasi pelabuhan masih bisa berjalan. Termasuk proyek-proyek investasi yang tidak terpengaruh covid-19, misalnya jalan.
Sementara itu berbicara kinerja ekspor, ia mengatakan setelah mengalami kontraksi pada triwulan lalu, kinerja ekspor mengindikasikan perbaikan sebagaimana tercermin pada melandainya kontraksi pertumbuhan keberangkatan kargo internasional. Sejalan dengan hal tersebut, kontraksi impor juga melandai dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Komoditas unggulan ekspor sampai dengan Agustus 2020 yaitu ikan dan udang 71,8 juta dolar (25,4%), pakaian jadi 40,3 juta dolar (14,3%), perhiasan/permata 36,6 juta dolar (12,9%), kayu, barang dari kayu 22,9 juta dolar (8,2%) dan perabot, penerangan15,3 juta dolar (5,4%). Sementara negara tujuan ekspor Amerika Serikat 91,3 juta dolar (32,3%), Australia 20,6 juta dolar (7,3%), Jepang 19,1 juta dolar (6,7%), Tiongkok 16,1 juta dolar (5,8%), Singapura 15,4 juta dolar (5,5%).
Untuk komoditas unggulan impor masih dari mesin dan peralatan listrik 14,6 juta dolar (22,3%), mesin & pesawat mekanik 9,2 juta dolar (14,1%), barang-barang dari kulit 6 juta dolar (9,2%), minyak atsiri 4,1 juta dolar (6,2%) dan perhiasan/permata 4 juta dolar (6,2%). Sedangkan negara asal impor Hongkong 14,2 juta dolar (21.6%), Tiongkok 13,6 juta dolar (20,8%), Amerika Serikat12,9 juta dolar (19,7%), Singapura 6,7 juta dolar (10,2%) dan Australia 4,5 juta dolar (6,9%).*dik

BAGIKAN