Triwulan II Pertumbuhan Ekonomi Negatif Berpotensi Berlanjut, Bali Diambang Resesi

BPS Bali mencatat ekonomi di pulau dewata diukur berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) kantongi pertumbuhan negatip 1,14 persen pada triwulan I/2020.

Denpasar (bisnisbali.com) –BPS Bali mencatat ekonomi di pulau dewata diukur berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) kantongi pertumbuhan negatip 1,14 persen pada triwulan I/2020. Menurut Kepala BPS Bali, Adi Nugroho pada triwulan II tahun yang sama ekonomi pulau dewata berpotensi tak lebih baik dari periode sebelumnya, sehingga ada peluang pertumbuhan ekonomi negatif akan terus berlanjut.

“Pada triwulan I/2020 lalu dengan adanya pandemi Covid-19 yang kemudian dilakukan pembatasan pada Maret 2020, kondisi itu saja sudah membuat ekonomi Bali turun 1,14 persen. Kini pada triwulan II dengan keadaan ekonomi yang tidak lebih baik dari triwulan sebelumnya, besar kemungkinan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali tidak menjadi lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya,” tutur Adi, Jumat (19/6).

Terangnya, triwulan II sektor yang memberi andil terhadap pertumbuhan negatif ekonomi Bali ini masih sama seperti triwulan sebelumnya. Itu, seiring dengan ketergantungan Bali terhadap sektor pariwsata masih sangat kuat, sehingga ketika pariwisata terganggu maka turunannya juga akan berdampak.
Bercermin dari itu jelas Adi, ketika pertumbuhan ekonomi Bali dua kali pada posisi negatif (minus), maka secara teori kondisi tersebut sudah menggambarkan bahwa terjadinya resesi eknomi (kelesuan ekonomi). Paparnya, ketika ekonomi lesu, maka sektor usaha yang ada akan pada posisi tidak mudah untuk mendapatkan keuntungan. Dampaknya, ilklim investasi di Bali akan terancam, sehingga dampak ikutannya akan berimbas pada banyakanya tenaga kerja yang terancam dirumahkan maupun di PHK.
“Resesi ini merupakan istilah yang sering digunakan oleh pemangku kepentingan untuk melihat keadaaan suatu daerah salah satunya dengan melihat pertumbuhan ekonomi dua kali secara triwulan, namun sesungguhnya kelesuan sebenarnya sudah bisa dirasakan saat ini,” tandasnya.

Sementara itu sambungnya, sektor pertanian di Bali yang oleh sejumlah kalangan banyak digadang-gadang sebagai alternatip pendongkrak pertumbuhan ekonomi Bali selain sektor pariwisata, dari catatan BPS Bali untuk sektor pertanian belum siap. Itu tercermin dari sumbangan terhadap PDRB Bali 13,67 persen yang juga menunjukan tren penurunan dari tahun ke tahun, sekaligus mengindikasikan jika sektor pertaian di Bali tidak ada trobosan yang baru maka sumbangan terhadap PDRB pulau dewata akan terus alami penurunan.

“Artinya ketika sektor pariwsata di Bali ini lesu dampak Covid-19, di sektor pertanian tidak sedang menunjukan performa untuk siap menggantikan. Bahkan ironisnya, sektor pertanian di Bali malah lebih dulu alami kelesuan dibandingkan sektor pariwisata,” kilahnya.
Di sisi lain menurutnya, meski sektor pertanian di Bali ini belum siap sebagai alternatip pengganti peran sektor pariwsata untuk menopang pertumbuhan ekonomi Bali, sektor pertanian di Bali dengan keterbatasan pengusaan lahan dan menurunnya jumlah pelaku usaha jika dikembangkan dengan mengadopsi teknologi atau trobosan baru maka sektor ini tidak menutup kemungkinan akan menjadi harapan baru bagi ekonomi Bali kedepan. Sebab asumsinya, ketika dampak Covid-19 ini mereda, maka sektor pariwisata di Bali ini tidak akan pulih seketika itu juga karena banyak kalangan akan mengutamakan pemulihan untuk pemenuhan kebutuhan primer dahulu, sandang, baru kemudian kebutuhan untuk berwisata.*man

BAGIKAN