Triwulan I-2020 Ekonomi Bali Tumbuh Negatif 1,14 Persen

Triwulan I-2020 atau di tengah pandemi corona (covid-19) kondisi ekonomi Bali yang diukur berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat Rp 60,60 triliun dan berdasarkan atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp 38,65 triliun.

Triwulan I-2020 atau di tengah pandemi corona (covid-19) kondisi ekonomi Bali yang diukur berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat Rp 60,60 triliun dan berdasarkan atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp 38,65 triliun. Dibandingkan triwulan I 2019 (y-on-y), ekonomi Bali triwulan I-2020 tercatat tumbuh negatif 1,14 persen. Sektor usaha apa saja yang menyebabkan?

Kepala BPS Bali, Adi Nugroho, di saat melakukan video conference berita resmi statistik (BRS) mengungkapkan, di tengah masa pandemi corona PDRB tetap dirilis dan dihitung dengan metode yang sama, meski memerlukan penyesuaian dalam cara pengumpulan data. Jika pada periode sebelumnya pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka, maka kali ini pengumpulan data dilakukan secara jarak jauh (wawancara melalui telepon, email, Whatsapp, serta metode survei via google form).

“Tuntutan metodologi statistika tetap dijaga, sekalipun pada tingkatan teknis tertentu angka yang dihasilkan tidak bisa diperlakukan secara “apple to apple” dengan angka sebelumnya yang diperoleh secara normal,” tuturnya.

Jelas Adi, pandemi corona telah berdampak besar pada penurunan aktivitas pariwisata yang merupakan kontributor utama ekonomi Bali. Sejumlah kategori lapangan usaha yang memiliki keterkaitan erat dengan pariwisata tercatat mengalami penurunan. Lapangan usaha tersebut diantaranya, Kategori I (penyediaan akomodasi dan makan minum) tercatat tumbuh negatif 9,11 persen, Kategori H (transportasi dan pergudangan) tumbuh negatif 6,21 persen, dan Kategori R,S,T,U (jasa lainnya) tumbuh negatif 2,82 persen.

“Turunnya nilai tambah yang tercipta pada Kategori I bisa dipandang sebagai cerminan pengaruh waktu mengingat kategori ini mencakup berbagai aktivitas layanan yang sebagian besar ditujukan untuk wisatawan,” ujarnya.

Sambungnya, itu tercermin dari kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tercatat sekitar 1,05 juta kunjungan pada triwulan I-2020, turun -21,82 persen dibandingkan triwulan I 2019 yang mencapai 1,34 juta kunjungan. Penurunan nilai tambah juga terkonfirmasi dari turunnya rata-rata tingkat penghunian kamar (TPK) hotel. Katanya, rata-rata TPK hotel berbintang pada triwulan I-2020 tercatat 43,56 persen, turun sedalam -9,39 poin jika dibandingkan dengan rata-rata TPK hotel berbintang triwulan I-2019 yang mencapai 52,95 persen.

Pertumbuhan negatif juga tercatat pada Kategori H (Transportasi dan Pergudangan) yang mencakup aktivitas mobilisasi penduduk termasuk wisatawan. Jumlah keberangkatan penumpang internasional dari Bandara Ngurah Rai mencapai 1,34 juta orang pada triwulan I-2020, tercatat mengalami penurunan sedalam -13,79 persen dibandingkan triwulan I-2019 yang mencapai 1,56 juta orang.

“Sejalan dengan penerbangan internasional, penurunan juga tercatat pada keberangkatan penumpang domestik yakni sedalam -8,82 persen. Kategori R,S,T,U (Jasa Lainnya) juga tercatat mengalami pertumbuhan negatip,” kilahnya.

Lanjutnya, selain akibat penurunan wisman, kondisi ini juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah menutup obyek wisata di seluruh wilayah Bali, mulai 20 Maret 2020. Penutupan ini tentu berdampak pada penurunan output dibandingkan dengan tahun lalu ketika dalam kondisi normal.

Tambahnya, selain kategori lapangan usaha yang terkait langsung dengan pariwisata, Kategori C

(Industri Pengolahan) juga diduga terkena imbas pandemi corona. Pada triwulan I-2020, kategori ini tercatat tumbuh (negatif) -7,95 persen dibandingkan dengan triwulan I-2019. Pada sejumlah perusahaan Industri Besar Sedang (IBS) telah tercatat penurunan produksi, utamanya yang merupakan komoditas ekspor. Penutupan penerbangan ke beberapa negara tujuan ekspor, berdampak langsung pada terputusnya jalur distribusi yang menyebabkan penurunan produksi. “Kondisi ini terkonfirmasi dari turunnya ekspor barang asal Bali pada triwulan I-2020 jika

dibandingkan dengan triwulan I-2019 pada sejumlah komoditas,” tandasnya.

Sementara itu, pada triwulan I-2020 jika dilihat dari struktur ekonomi, struktur ekonomi Bali masih tercatat didominasi oleh Kategori I dengan kontribusi 21,81 persen. Diikuti berturut-turut oleh Kategori A (pertanian, kehutanan, dan perikanan) 13,67 persen, Kategori F (Konstruksi) 10,02 persen, Kategori H (transportasi dan pergudangan) 9,06 persen, dan Kategori G (perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor) tercatat 8,57 persen.*man

BAGIKAN