Transportasi  Pariwisata Bali Harapkan Wisman

Bergantungnya transportasi pariwisata kepada wisatawan mancanegara (wisman) memberi keterpurukan di tengah pendemi Covid-19 yang sudah terjadi selama 10 bulan lebih.

Denpasar (bisnisbali.com) –Bergantungnya transportasi pariwisata kepada wisatawan mancanegara (wisman) memberi keterpurukan di tengah pendemi Covid-19 yang sudah terjadi selama 10 bulan lebih. Tidak ada pergerakan yang bisa dilakukan, sehingga sebagian pelaku usaha terkait memilih banting setir.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bali I Ketut Eddy Dharma Putra mengatakan, angkutan (transportasi) pariwisata di Bali selama pandemi nyaris tidak ada pergerakan. Alternatif lain yang biasanya bisa diarahkan seperti pelaksanaan tirta yatra juga sangat sulit saat ini karena ada pembatasan kegiatan masyarakat. “Kalau dulu pariwisata sepi, alternatifnya bisa menyasar pelaksanaan tirta yatra. Sekarang tirta yatra juga tidak ada,” ujarnya belum lama ini.

Dikatakannya, transportasi pariwisata sangat berharap kedatangan wisman. Hal ini dikarenakan transportasi pariwisata Bali sangat bergantung pada wisman. Berbeda halnya dengan tempat lain  seperti Yogyakarta yang lebih mengandalkan wisatawan domestik (wisdom).

Saat ini banyak kendaraan yang harus di parkir sehingga menambah keterpurukan pelaku usaha. Tidak berjalannya kendaraan dalam waktu yang lama mempercepat kerusakan dan membutuhkan biaya perawatan.  “Kendaraan lama diam menambah beban. Knalpot jadi cepat rusak, aki mati dan  ban rusak. Jadi, harus ada biaya lagi yang dikeluarkan,” ungkap Eddy Dharma Putra.

Menurutnya, alternatif penjualan kendaraan belum menjadi solusi. Selain kendaraan ditawar murah, juga kesulitan dalam menjualnya, dikarenakan perekonomian masyarakat yang secara global masih lesu. Saat ini pelaku usaha transportasi dan penyedia jasa transportasi memilih beralih memanfaatkan berbagai peluang untuk bertahan hidup, mulai dari membuka usaha, bertani hingga berjualan berbagai produk yang laris di masyarakat. *wid

BAGIKAN