Tonjolkan Kearifan Lokal

PANDEMI Covid-19 membuat masyarakat berpikir dua kali untuk berwisata kuliner. Kondisi tempat kuliner menjadi pertimbangan utama.

PANDEMI Covid-19 membuat masyarakat berpikir dua kali untuk berwisata kuliner. Kondisi tempat kuliner menjadi pertimbangan utama. Sebab, sesuai protokol kesehatan, kerumunan harus dihindari. Dalam hal ini, tempat kuliner open air bisa jadi solusinya.

Warung makan atau restoran dengan konsep open air cukup banyak tersedia di Bali. Salah satunya, Warung Di Kebun. Pemilik warung, Yuda Wiradi mengatakan, masa pandemi merupakan suatu keuntungan tersendiri bagi usahanya yang mengusung konsep open air. Konsep ini akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi customer.

Di sisi lain, pihaknya optimis cita rasa lokal dalam menu makanan akan memberikan kesan mendalam bagi pengunjung. Apalagi pihaknya merasa bangga dapat memperkenalkan makanan tradisional ke generasi muda. Ini juga bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal.

“Makanan tradisional yang dihadirkan dimasak dengan cara yang tradisional juga sehingga kualitas cita rasa makanan tersebut akan ke luar bukan hanya dari aroma, melainkan juga rasanya. Walaupun memakan waktu yang sedikit lebih lama dibandingkan memasak dengan kompor biasa, yang terpenting adalah cita rasanya tersampaikan ke lidah para pelanggan,” ujar Yuda Wiradi.

Meski demikian, tetap saja tidak bisa dipungkiri pandemi membuat omzet menurun. Daya beli masyarakat yang berkurang membuat masyarakat mengurangi wisata kuliner. Karena itu, ada beberapa strategi yang dilakukan pihaknya agar tetap bertahan dan meningkatkan minat pembeli. Contohnya, mengeluarkan paket-paket menarik yang lebih hemat dan praktis.

“Jadi, ada paket ngejot yang dihadirkan ketika hari hari raya besar, seperti Galungan, Kuningan, Idul Fitri dan lainnya. Selama ini, mungkin sudah banyak orang yang melupakan istilah tersebut. Jadi, secara tidak langsung diingatkan kembali. Paket yang kedua adalah takilan. Di masa pandemi ini, banyak orang yang mencari ketenangan dan melakukan persembahyangan ke pura-pura. Di kesempatan tersebut kami hadir untuk memberikan paket makanan yang dikemas menggunakan besek. Selain harganya yang terjangkau, paket tersebut dapat dinikmati oleh 5 sampai 6 orang,” imbuhnya.

Menu makanan yang paling best seller adalah pesan telengis dan lontong serapah telengis. Selain itu, ada juga menu tradisional lainnya seperti lontong blayag, jajan Bali, es daluman dan lain sebagainya. Dalam menghidangkan makanan tersebut untuk para pelanggan yang datang, protokol kesehatan sangat diperhatikan. Meja disemprot dengan disinfektan secara berkala, fasilitas cuci tangan sebelum memasuki area tempat makan, jarak yang diatur dan tentunya wajib menggunakan masker.

“Dengan banyaknya pesaing yang ada, saya rasa itu sangat normal dan natural. Sekarang kembali lagi pada diri sendiri, bagaimana men-drive market dengan menghidangkan sesuatu yang berbeda dan tentunya berkualitas. Saya berharap kepada seluruh teman pembisnis dan juga masyarakat agar tetap semangat dan jaga kesehatan. Dalam kondisi seperti ini, tentunya pemerintah tidak diam dan akan selalu mendukung kita dengan berbagai upayanya,” katanya. *git

BAGIKAN