Tiongkok Anjlok, Pasar Alternatif Bawa Pariwisata Bali Tumbuh

Pasar Tiongkok dipastikan anjlok pasca virus corona di Wuhan dan penutupan penerbangan di Tiongkok.

WISATAWAN - Garap pasar diluar Tiongkok pariwisata Bali mesti memilih wisatawan yang lama tinggal panjang dan tingkat pengeluaran tinggi.

Denpasar (bisnisbali.com)-Pasar Tiongkok dipastikan anjlok pasca virus corona di Wuhan dan penutupan penerbangan di Tiongkok. Dewan Pembina DPD Asita Bali, Bagus Sudibya Senin (17/2) mengatakan ketika pasar Tiongkok anjlok pariwisata masih didukung pasar alternatif untuk tumbuh.

Pasar domestik, pasar negara Asean yang menjadi pasar utama dan terdekat dengan Bali. Selanjutnya pasar Asia, Jepang, Korea termasuk India berpeluang besar berlibur ke Bali pasca anjlok pasar Tiongkok.
Ia menjelaskan wisatawan Australia dan wisatawan asal Eropa juga menjadi penyelamat pariwisata Bali pasca merebaknya virus corona. Semua pasar alternatif di luar Tiongkok ini bisa mengisi pasar pariwisata Bali.

Konsul Kehormatan Afrika Selatan ini memaparkan wisatawan domestik rata-rata memiliki lama tinggal 3 malam.  Wisatawan kawasan Asia seperti Malaysia dan Jepang memiliki lama tinggal 3-4 malam.

Wisatawan Australia dan Amerika memiliki lama tinggal 1-2 minggu. ” Yang paling lama lama tinggalnya wisatawan Eropa 2 minggu – 4 minggu,” ucapnya. Menurutnya, biaya perjalanan wisatawan  Eropa ke Bali cukup mahal. Wisatawan Eropa memiliki lama waktu liburan cukup panjang. Lama liburan wisatawan Eropa lebih panjang dibandingkan wisatawan  Amerika Australia dan Asia.

Saat terjadi penurunan kunjungan wisatawan Tiongkok, pariwisata Bali bisa berharap pada pasar di luar Tiongkok seperti Pasar Eropa. Jika diperhitungkan lama tinggal, maka wisatawan Eropa masuk dalam wisatawan berkualitas. ” Ini dikarenakan lama tinggal cukup lama, dan uang yang dibelanjakan wisatawan Eropa cukup banyak ,” ucapnya.

Bagus Sudibya menambahkan pasar Eropa yang pendapatan perkapitanya cukup tinggi Jerman, Inggris, Swedia dan Belgia. Khusus pasar Asia, wisatawan Jepang dan Singapura tingkat perbelanjaannya cukup tinggi.  Saat mengembangkan pasar ke luar Tiongkok, pelaku pariwisata Bali mesti mempertimbangkan pasar wisatawan yang memiliki lama tinggal panjang dan tingkat belanja atau  pengeluaran selama berlibur yang tinggi. *kup

BAGIKAN