Tinggi, Serapan Beras ASN Tabanan

Menjaga harga pangan khususnya beras di tingkat petani agar menjanjikan sekaligus terserap di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Tabanan mengeluarkan kebijakan dengan membeli produk beras oleh ASN lewat pemotongan tambahan penghasilan pegawai (TPP).

PADI – Seorang petani di Jatiluwih tengah mengangkut hasil panen padi. (eka)

Tabanan (bisnisbali.com) – Menjaga harga pangan khususnya beras di tingkat petani agar menjanjikan sekaligus terserap di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Tabanan mengeluarkan kebijakan dengan membeli produk beras oleh ASN lewat pemotongan tambahan penghasilan pegawai (TPP). Program yang dimulai sejak Oktober hingga Desember 2020 dan dikoordinir Perusahaan Daerah Dharma Santika (PDDS) ini mampu menyerap hasil pertanian lokal hingga 150 ton per bulan.

Direktur PDDS Tabanan I Putu Sugi Darmawan, Rabu (11/11) kemarin, mengungkapkan, secara umum selama pandemi Covid-19 Pemkab Tabanan sudah mengupayakan sejumlah cara dalam membantu perputaran usaha di sektor UMKM dan BUMDes yang terdampak. Salah satunya, melalui PDDS yang mengkoordinir dilakukan melalui program ASN Peduli yang pangsa pasarnya sudah pasti dengan penyisihan pendapatan TPP dari PNS Pemkab Tabanan dan itu menghasilkan perputaran dana hingga Rp 400 juta per bulan.

“Perputaran dana dari program tersebut kami fokuskan untuk menyerap produk UMKM dan BUMDes di Tabanan yang terdampak pandemi dan itu berjalan hanya empat bulan. Yakni, mulai Juni hingga September lalu,” tuturnya.

Menurut Sugi, kini upaya Pemkab Tabanan dalam menyerap produk lokal masih dilakukan, namun saat ini fokus ke produk pertanian dalam bentuk beras yang dananya diambil dari pemotongan insentif TPP. Mekanismenya, jika sebelumnya ASN di lingkungan Pemkab Tabanan yang menerima jatah beras mencapai 15 kg per orang per bulan, maka sejak Oktober hingga Desember mendatang melalui pemotongan TPP yang mencapai Rp 150 ribu per ASN, maka jatah beras tersebut ditambah menjadi 25 kg per orang per bulan. “Artinya, jika sebelumnya ASN ini mendapat jatah beras di angka 15 kg per bulan, maka sekarang naik menjadi 25 kg,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, program ini akan mampu menyerap produk pertanian Tabanan dalam bentuk beras mencapai 150 ton per bulan. Jika dihitung dalam bentuk gabah dengan sumsimsi rendemen 50 persen, maka serapan gabah petani Tabanan untuk memenuhi kebutuhan ASN ini mencapai 300 ton per bulan atau mencapai 900 ton untuk kebutuhan selama tiga bulan. Bercermin dari itu, di tengah pandemi Covid-19 produksi petani Tabanan tetap bisa terserap oleh pasar.

“Pemenuhan kebutuhan beras untuk ASN ini, kami bekerja sama dengan penyosohan dan mensyaratkan harus menyerap produksi gabah dari petani di Tabanan. Terkecuali terjadi gagal panen, namun itu harus dilaporkan ke kami sebelumnya,” tandasnya.

Sementara itu, di luar dari program tersebut dan PDDS juga menyerap produksi petani Tabanan dalam bentuk beras kualitas khusus untuk kemudian dilempar ke sejumlah toko berjaringan. Beras kualitas khusus tersebut meliputi, beras merah yang serapannya mencapai 2 ton per bulan dengan harga Rp 20.000 per kg dalam bentuk curah di tingkat penyosohan, beras hitam menyerap hingga 800 kg per bulan dengan harga Rp 22.000 per kg dalam bentuk curah di penyosohan serta beras mentik.susu menyerap hingga 1 ton per bulan dengan harga Rp 14.000 per kg dalam bentuk curah di penyosohan.

“Harga ini kami beli di tingkat penyosoh dalam bentuk curah. Harga bisa berubah sesuai dengan keadaan pasar, karena untuk beras kategori khusus tidak diatur dalam harga eceran tertinggi (HET) oleh Kementerian Perdagangan,” ujarnya.*man

BAGIKAN