Tinggi, Peluang Ekspor Vanili

Di tengah terpuruknya sektor pariwisata sebagai dampak pandemi Covid-19, sektor pertanian menjadi pilihan menjanjikan dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi Bali.

VANILI-Loka Antara saat mendata budi daya vanili.

Tabanan (bisnisbali.com) –Di tengah terpuruknya sektor pariwisata sebagai dampak pandemi Covid-19, sektor pertanian menjadi pilihan menjanjikan dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi Bali. Salah satu komoditi yang bisa menjadi pilihan adalah vanili. Hal ini mengingat serapan pasar ekspor cukup besar dan harganya yang mahal hingga menyentuh Rp 2,6 juta per kg untuk kualitas kering.

“Saat ini vanili bisa dibilang menjadi komoditi ekspor yang menjanjikan, karena harganya yang mahal dan di Tabanan sejumlah daerah sangat berpeluang untuk pengembangan tanaman tersebut. Sebab itu, kami dorong petani ini untuk kembali melirik vanili, setelah sebelumnya sempat berjaya sebagai sentra penghasil vanili beberapa tahun silam,” tutur Ketua Kadin Tabanan, Loka Antara, SPT., M.Si.,  Senin (8/3).

Menurutnya, potensi dari tanaman vanili ini sebenarnya diketahui setelah melakukan pendataan komoditas pertanian berorientasi pasar ekspor yang dibebankan kepada Kadin Tabanan dari Kadin Provinsi Bali. Pendataan komoditas pertanian ini sudah dilakukan di antaranya pada pertanian kelapa, buah dan kini komoditi vanili dengan merangkul Semeton Petani Vanili Bali (SPVB) yang beranggotakan kurang lebih 70 kelompok seluruh Bali.

“SPVB ini rata-rata anggotanya 10-20 orang per kelompok, bahkan ada kelompok dari Sulangai anggotanya mencapai 50 orang. Dari jumlah tersebut di Tabanan ada tiga.  Yakni, kelompok vanili yang ada di Gunung Salak Selemadeg Timur, Bantiran Pupuan, dan Bangkiang Jaran Selemadeg Barat,” bebernya.

Loka Antara menyebutkan, dari pendataan tersebut diketahui bahwa potensi bisnis untuk budi daya vanili sangat menggiurkan. Betapa tidak, pangsa pasar vanili sangat tinggi karena diminati oleh buyer di Eropa karena digunakan bahan baku makanan olahan. Selain itu, lebih menggiurkan lagi karena harga jual untuk vanili di tingkat petani ini ternyata sangat mahal dengan menyentuh Rp 2.100.000 per kg sampai Rp 2.600.000 per kg untuk kualitas vanili kering. Sedangkan untuk vanili kualitas basah berkisar Rp 350.000 per kg sampai Rp 400.000 per kg saat ini.

“Sebab itu kami dorong petani di Tabanan ini mengembangkan vanili. Termasuk juga dinas terkait di Tabanan untuk membantu pengembangan vanili, khususnya untuk pengembangan pertanian di dataran tinggi,” ujarnya.

Dikatakannya lebih lanjut, Kabupaten Tabanan memiliki potensi besar untuk pengembangan vanili karena memang kondisi alam yang mendukung. Saat ini sejumlah kelompok tani di Kabupaten Tabanan sudah mulai bergairah berbudi daya vanili. Sayangnya, upaya tersebut memang masih kurang optimal karena terganjal dengan biaya pembelian bibit yang mahal. Bibit vanili yang ukuran tinggi 30 cm atau dengan kondisi tiga ruas mencapai Rp 10.000 per bibit.

Selain itu, kendala lain yang dihadapkan petani vanili adalah karena permasalahan ekonomi. Kadang kala sejumlah petani yang seharusnya melakukan panen disesuaikan dengan umur tanaman, namun belakangan cenderung panen dilakukan secara sekaligus sehingga kualitasnya hanya sebagian atau 30 sampai 40 persen yang masuk dalam grade A atau kualitas bagus. “Terkait kendala ini pun, kami sudah sampaikan ke Kadin Provinsi Bali karena merupakan tugas dalam menjembatani, pendampingan hingga membantu pada pascapanen,” tandasnya. *man

BAGIKAN