Tiga Buah Lokal Bali Diekspor Perdana ke Eropa

Selama pandemi Covid-19 ekspor terhadap tiga komoditas buah lokal yaitu mangga, buah naga dan salak dilakukan secara perdana dengan menyasar negara tujuan Eropa.

SIAP EKSPOR - Buah lokal Bali yang telah siap diekspor.

Mangupura (bisnisbali.com)-Selama pandemi Covid-19 ekspor terhadap tiga komoditas buah lokal yaitu mangga, buah naga dan salak dilakukan secara perdana dengan menyasar negara tujuan Eropa. Ekspor kali ini dilakukan oleh Forum Petani Muda Bali (Komunitas Petani Muda Keren) dengan total buah sebanyak 700 kilogram yang pengirimannya dilakukan dari Bali-Dubai-Praha pada Kamis (24/9) kemarin.

Ketua Forum Petani Muda Bali A.A. Gede Agung Wedhatama P, saat ditemui di Mengwi, Badung, mengatakan, ekspor komoditas ini merupakan perdana di tengah pandemi Covid-19, termasuk juga Eropa menjadi negara tujuan yang kali pertama dilakukan. Meski jumlah yang diekspor masih tergolong sedikit dari yang direncanakan, namun kegiatan ini akan dilakukan secara berkelanjutan. “Ekspor dengan tujuan Eropa ini akan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan setiap minggu,” ungkapnya.

Terhadap tiga komoditas buah tersebut, pihaknya mengambil langsung dari daerah-daerah penghasilnya. Seperti halnya mangga diambil langsung dari petani di Desa Tembok Kabupaten Buleleng. Buah naga pun diambil dari Buleleng, tepatnya dari Desa Bulian. Sementara untuk salak berasaal dari Desa Sibetan, Karangasem.

Dengan menyasar Eropa, petani mendapatkan harga yang cukup bagus, lebih tinggi dari pasar lokal. “Dari buyer sendiri dikatakan harga masih terjangkau. Namun kita harus kompetitif karena kita juga bersaing dengan negara lain, seperti Uganda, Thailand dan sebagainya,” ujar Agung Wedha.

Lebih lanjut dikatakannya, permintaan akan produk pertanian lokal dari beberapa negara di tengah pandemi Covid-19 ini cukup banyak. Terlebih pasokan bahan pangan di negara-negara Eropa, Timur Tengah, sudah mulai kritis, sehingga peluang ekspor pun terbuka. Hanya saja ekspor masih terkendala tingginya tarif cargo.

“Sebenarnya dari April permintaan sudah ada. Namun, karena tarif cargo sangat tinggi, jadi ekspor belum bisa dilakukan. Nunggu biar tarif cargo turun dikit,” ujarnya.

Sejauh ini, pihak buyer belum masih berani terlalu banyak untuk belanja, dikarenakan tingginya tarif cargo. Pihaknya berharap dengan ekspor perdana ini, ke depan tarif akan mulai turun dan pengiriman bisa dilakukan dengan lancar serta pengiriman bisa dilakukan secara langsung dari Bali bukan melalui Jakarta. *wid

BAGIKAN