Tidak Ada Panen Raya, Stok Beras di Bali Diyakini Aman

PELAKU usaha penggilingan padi di Tabanan sekaligus juga Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali AA Made Sukawetan mengungkapkan, berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini kemungkinan di Bali tidak akan terjadi panen raya.

PELAKU usaha penggilingan padi di Tabanan sekaligus juga Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali AA Made Sukawetan mengungkapkan, berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini kemungkinan di Bali tidak akan terjadi panen raya. Hal ini menyusul musim tanam padi yang terjadi pada akhir dan awal tahun lalu tidak serempak. Tidak semua sentra produksi padi yang ada di Bali bisa melakukan proses tanam.

“Kemarau panjang membuat petani sawah tadah hujan tidak bisa melakukan olah sawah. Selain itu, ada juga sawah yang sudah telanjur tanam, karena kesulitan air di tengah masa budi daya, membuat produksi di sejumlah sentra padi menjadi gagal tanam,” tuturnya.

Jelas Sukawetan, tidak adanya panen raya di Bali tahun ini diperkuat dengan perbandingan tahun sebelumnya. Mestinya bulan ini (Mei) sudah terjadi panen dengan volume besar (puncak panen raya), namun hal itu tidak terjadi. Katanya, saat ini volume dan luas panen untuk sentra pertanian di Bali masih cenderung terbatas dan tidak serempak sehingga itu juga membuat harga gabah di tingkat petani turun namun masih cenderung berada di kisaran mahal.

“Saat ini ada panen, namun tidak serempak dan hanya sedikit-sedikit volumenya. Itu tidak hanya terjadi di Tabanan sebagai lumbung pangannya Bali. Hal sama juga terjadi di kabupaten/kota lainnya,” ujarnya.

Sambungnya, meski tidak ada panen raya di Bali tahun ini, prediksinya persediaan beras masih mencukupi. Asumsinya, itu didasari di tengah tidak adanya panen raya, Bali diserbu oleh masuknya produksi gabah dari petani luar daerah. Lombok memasuki panen raya sekarang ini.

Serbuan gabah dari luar daerah ini, diakuinya, sekaligus membuat harga gabah di tingkat petani di Bali turun dari sebelumnya. Saat ini berada di kisaran Rp 4.600 per kg-Rp 4.700 per kg, turun dari posisi Rp 5.000 per kg.

“Saat ini harga gabah di tingkat ini masih tergolong cukup mahal. Sebab, bercermin dari tahun lalu, jika terjadi panen raya di Bali harga jual bisa turun hingga sentuh Rp 4.000 per kg-Rp 4.100 per kg,” kilahnya.

Sementara itu, data dari Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan mencatat, daerah lumbung pangan Bali mengantongi panen gabah 1.688 hektar per April 2020. Jumlah ini disumbang oleh delapan dari total sepuluh kecamatan yang ada di Kabupaten Tabanan, yakni Selemadeg Barat mencapai 219 hektar, Selemadeg 100 hektar, Kerambitan 500 hektar, Tabanan 596 hektar, Kediri 74 hektar, Marga 63 hektar, Penebel 51 hektar, dan Pupuan 85 hektar.

Dilihat dari total kondisi luas panen sejak Januari 2020 hingga April, luas panen padi di Kabupaten Tabanan menunjukkan angka berfluktuatif. Tercermin, Januari 2020 realisasi luas panen sawah total tercatat 2.482 hektar, Februari tahun yang sama menurun menjadi 1.402 hektar, Maret 2020 total luas panen kembali menurun menjadi 1.218 hektar, dan April total luas panen kembali meningkat menjadi 1.688 hektar. Bercermin dari itu selama Januari-April 2020 total luas panen di Tabanan tercatat 6.790 hektar. *man

BAGIKAN