Terus Bertambah, Pedagang Mikro Gunakan QRIS

Provinsi Bali tercatat masuk 10 besar penggunaan Standar QR Code untuk pembayaran digital atau QRIS secara nasional.

Trisno Nugroho

Denpasar (bisnisbali.com) – Provinsi Bali tercatat masuk 10 besar penggunaan Standar QR Code untuk pembayaran digital atau QRIS secara nasional. Pengguna transaksi nontunai di tengah pandemi Covid-19 terus mengalami peningkatan, baik dari masyarakat maupun jumlah merchant.

“Bali saat ini masuk peringkat 8 besar penggunaan QRIS dengan jumlah merchant QRIS di Bali mencapai 155.063 hingga 13 November 2020,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho di Renon, Selasa (17/11).

Sejak QRIS diluncurkan setahun lalu, berdasarkan data jumlah merchant yang menggunakan pembayaran digital standar QR tersebut di Bali mencapai 508 persen (1 Januari hingga 13 November 2020) atau meningkat 142 persen selama pandemi Covid-19 yaitu dari 1 Maret hingga 13 November 2020. Menurut Trisno, peningkatan jumlah pengguna QRIS itu terlihat dari jumlah merchant QRIS di Bali, yakni 51 persen adalah usaha mikro, 24 persen usaha kecil, 16 persen usaha menengah, 8 persen usaha besar dan 1 persen usaha reguler. “51 persen usaha mikro di antaranya termasuk pedagang kecil, penjual bakso maupun minuman. Sektor pariwisata juga meningkat termasuk sektor menengah atas,” ujarnya.

Trisno optimis pengguna QRIS di Pulau Dewata akan terus bertambah karena masyarakat cenderung menggunakan transaksi nontunai di tengah pandemi Covid-19. Ekspansi jumlah merchant tersebut mampu meningkatkan penggunaan transaksi digital berbasis QRIS di masyarakat dengan jumlah transaksi lebih dari 60 ribu transaksi dengan nominal mencapai Rp 11,93 miliar pada akhir Agustus 2020.

Hal itu terlihat jumlah QRIS di Bali hingga 13 November 2020 menunjukkan tertinggi di Denpasar sebanyak 49 persen atau 76.174 merchant. Sebaran di Kabupaten Badung merupakan yang terbanyak kedua di Bali dengan pangsa 28 persen atau sebanyak 42.775 merchant.

Selanjutnya, Gianyar mencapai 8 persen atau 11.921 merchant. Buleleng 6 persen atau 9.049 merchant, Tabanan 6.671 merchant (4 persen), Karangasem 2.354 merchant (2 persen), Klungkung 2.342 merchant (2 persen), Jembrana 2.366 merchant (2 persen) dan Bangli 1.389 merchant (1 persen).

Meningkatnya jumlah merchant QRIS di Bali ini membuktikan adaptasi digitalisasi ekonomi dan keuangan kian meningkat. Dengan QRIS, memudahkan masyarakat untuk tetap dapat bertransaksi maupun berdonasi secara aman, cepat, dan efisien terutama di tengah pandemi Covid-19. Selain itu, QRIS dapat digunakan untuk mendorong digitalisasi UMKM.

Selain itu, menurut dia, BI juga terus melakukan berbagai langkah untuk memastikan kelancaran sistem pembayaran nontunai. *dik

BAGIKAN