Tersertifikasi IG, Peluang Usaha Kopi Bali Terbuka

Bali memiliki potensi pertanian kopi yang bisa dikembangkan masyarakat dan  peluang pasarnya kini makin terbuka.

KOPI - Komoditi pertanian kopi arabika Bangli dan robusta Tabanan yang  memiliki peluang pasar makin terbuka.

Denpasar (bisnisbali.com) – Bali memiliki potensi pertanian kopi yang bisa dikembangkan masyarakat dan  peluang pasarnya kini makin terbuka. Demikian diungkapkan Owner Nira Bali, Ir. Nyoman Jaya Kusuma, Rabu (8/1).

Kata Jaya Kusuma, produk kopi, hasil pertanian Bali itu yakni, kopi arabika Bangli dan robusta Tabanan. Kedua jenis kopi ini juga telah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari pemerintah Republik Indonesia ( RI). Itu karena kedua produk kopi Bali ini memiliki keunggulan tersendiri yaitu cita rasa kopi yang khas. Budaya pertanian yang  dimiliki masyarakat juga mempengaruhi proses budi daya tanaman kopi di Bali. Ini tidak sama antara daerah satu dan lainnya di Bali. Perbedaan inilah yang melahirkan kekhasan cita rasa kopi. Pada umumnya semua kopi berkualitas. Didukung proses pengolahan yang baik maka hasilnya pun akan berkualitas dan menentukan prospek ekonominya di pasaran.

Lebih lanjut diceritakan, umumnya hanya pecinta kopi  mampu membedakan cita rasa berbeda antara jenis kopi satu dengan yang lainnya. Itu karena tiap kopi proses pengolahannya tak sama. Proses pengolahan dalam hal ini dimulai dari tingkat petani, perusahaan roastery, sampai dengan pendistribusiannya di pasaran yaitu kafe – kafe hingga warung sederhana yang menyediakan minuman kopi. Di tingkat petani kopi berkualitas diciptakan dari teknik pertanian kopi yang baik. Di dalam bercocok tanam kopi perlu media tanah yang subur. Di Kawasan Bangli dan Tabanan cukup tersedia dataran tinggi selain hawanya yang sejuk. Ini yang memungkinkan bibit kopi yang ditanam petani bisa tumbuh dengan baik. Selain itu petani memerlukan bibit kopi yang unggul, pemeliharaan dan perawatan tanaman kopi yang baik, hingga proses akhir yaitu pemetikan buah kopi pada saat yang tepat.

Jelasnya, petani yang paham teknik budi daya kopi baru akan memetik buah kopinya ketika sudah berwarna merah. Warna merah pada kopi menandakan tingkat kematangan yang sempurna dan kandungan gula dalam kopi tersebut juga lebih baik. Proses selanjutnya adalah petani menyortir buah kopi tersebut dengan mengguyurkan air pada wadah yang telah disiapkan. Jika buah kopi tersebut tenggelam itulah kopi yang layak diproses pengeringan sebelum nantinya masuk dapur roastery. Kini sudah ada perusahaan-perusahaan yang menyiapkan mesin pemanggangan kopi untuk nantinya siap diserbuk. Pemanfaatan teknologi roastery yang canggih hasilnya adalah biji kopi yang utuh dengan yang pecah – pecah bisa terpisah.  Dengan begitu ketika dijual dalam wujud kopi bijian jadi lebih berdaya saing di pasaran.

“Selama ini kami memasarkan kopi kemasan maupun dalam bentuk bubuk ke sejumlah kafe di Kuta dan sekitarnya,” imbuh Jaya Kusuma.

Lebih lanjut, Owner Nira Bali (salah satu perusahaan roastery kopi Bali) ini mengatakan, budaya pertanian yang dimiliki masyarakat juga mempengaruhi proses budi daya tanaman kopi di Bali. Ini tidak sama antara daerah satu dan lainnya di Bali. Perbedaan inilah yang melahirkan kekhasan cita rasa kopi. Pada umumnya semua kopi berkualitas. Didukung proses pengolahan yang baik maka hasilnya pun akan berkualitas dan menentukan prospek ekonominya di pasaran.

Menurutnya, budaya minum kopi juga merupakan pendongkrak permintaan akan minuman kopi yang tiap saat diperlukan masyarakat. Saat ini seiring terbukanya pasar kopi, komoditi kopi Bali pun makin naik daun. Hampir di semua kafe di objek wisata, kedai kopi di perkotaan hingga pedesaan ada kopi. Bahkan, kopi berkualitas Bali pun sudah ada yang diekspor.

Terkait harga kopi di pasaran, katanya tak sama per kilogramnya. Ini tergantung kualitas dan kepercayaan pelanggan. Produksi kopinya  saat ini dijual mulai Rp 250 ribu – Rp 275 ribu per kilogram. Dengan kemampuan produksi sekitar 200 kilogram per bulan dia berharap dengan cerahnya pasar kopi nantinya makin mampu meningkatkan produksi. Tak hanya memasarkannya di pasar lokal dan ke beberapa daerah di Indonesia, ke depan dia juga punya mimpi untuk ekspor. Untuk itu berbagai upaya terus dilakukan dalam pemasaran.

Selain memanfaatkan ajang pameran produk kopi di tingkat nasional, juga ikut ajang promosi ke luar negeri. Contohnya beberapa waktu lalu dia ikut dalam Festival Moskow, di Rusia. Harapannya kopi Bali yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan petani makin terangkat ke permukaan. Dengan terangkatnya bisnis kopi Bali tentu bukan saja pengusaha roastery yang bisa aktif berinovasi tapi juga para petani yang memasok bahan baku. Demikian dengan upaya pemasaran dengan dukungan pemerintah terkait dalam memberikan kemudahan maka ini akan menguatkan rantai bisnis perkopian di Bali selain mampu menyerap tenaga kerja (naker) yang lebih banyak.

Ketua Kadin Denpasar, Nugra Artana menyampaikan, produk kopi salah satu bidang usaha UKM yang memiliki peluang terbuka.  Karena itu kadin terus berupaya untuk melakukan terobosan membantu UKM agar tak hanya berkutat pada promosi lokal tapi juga mulai mampu menjaring para buyer pada momen pameran di luar negeri.*gun

BAGIKAN