Terkendala Biaya Penyambungan, 1.364 KK Miskin di Bali belum Jadi Pelanggan PLN

Meski dinyatakan rasio elektrifikasi (RE) di Bali telah mencapai 100 persen atau semua rumah tangga di Bali telah teraliri listrik, 9.129 rumah tangga belum menjadi pelanggan PLN.

Denpasar (bisnisbali.com) –Meski dinyatakan rasio elektrifikasi (RE) di Bali telah mencapai 100 persen atau semua rumah tangga di Bali telah teraliri listrik, 9.129 rumah tangga belum menjadi pelanggan PLN. Sekitar 1.364 di antaranya tergolong rumah tangga kurang mampu yang masuk dalam basis data terpadu (BDT) TNP2K dan memiliki keterbatasan untuk biaya penyambungan.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali Nyoman Swarjoni Astawa, di Sanur, belum lama ini mengatakan, rumah tangga yang belum menjadi pelanggan tersebut mendapatkan aliran listrik dari rumah tangga lain atau tetangga. Berdasarkan data Disdukcapil dan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 tercatat rumah tangga di Bali mencapai 1.140.315 KK. Hasil survai Unud mencatat 25.417 KK sudah merasakan listrik, namun tanpa ID pelanggan.

Hingga akhir 2019 tercatat 16.288 KK telah memiliki ID pelanggan. Sementara masih ada sekitar 9.129 KK yang belum menjadi pelanggan. “Dan 1.364 di antaranya merupakan keluarga kurang mampu yang memiliki keterbatasan akan biaya penyambungan,” ungkapnya.

Astawa mengatakan, untuk menjadi pelanggan baru membutuhkan biaya sekitar Rp632.000 yang menjadi kesulitan bagi masyarakat kurang mampu. ”Meski PLN memiliki program one man, one hope belum mampu membantu semua warga kurang mampu. Dengan itu kami juga mengharapkan bantuan dari pemda dan stakeholder lainnya, untuk turut membantu masyarakat kurang mampu dalam hal biaya penyambungan,” jelasnya.

Selain lebih hemat dengan menjadi pelanggan sendiri, menyalurkan listrik dari rumah tangga lain atau tetangga, kata Astawa secara aturan tidak dibenarkan. “Pelanggan tidak diperbolehkan untuk menyalurkan ke rumah tangga lain apalagi sampai menjual,” ungkapnya.

Di samping itu keamanan sangat menjadi perhatian. Menurutnya, sengatan yang bisa terjadi saat menyalurkan itu sangat berbahaya. Demikian juga dikatakannya, dengan menjadi pelanggan PLN biaya yang dikeluarkan masyarakat bisa lebih murah, karena hitungannya jelas dari penggunaan yang dilakukan. “Masyarakat juga bisa memanfaatkan listriknya untuk keperluan bisnis, seperti beli mesin tepung atau sebagainya,” imbuh Astawa. *wid

BAGIKAN