Terkait Relaksasi Kredit, Bank Berikan ”Treatment” Berbeda Setiap Debitur

Bank akan memberikan treatmen berbeda setiap debitur terkait relaksasi kredit terutama bagi mereka yang terdampak langsung maupun tidak langsung dari virus corona.

Denpasar (bisnisbali.com) –Bank akan memberikan treatmen berbeda setiap debitur terkait relaksasi kredit terutama bagi mereka yang terdampak langsung maupun tidak langsung dari virus corona.
“Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) terkait relaksasi memang sudah diproses, kemungkinan akan diterbitkan minggu ini karena harus di-undang-undangkan terlebih dahulu,” kata Dirut Bank BPD Bali, Nyoman Sudharma di Renon, Kamis (19/3).

Kendati demikian, ia menilai POJK yang akan diterbitkan hampir mirip POJK daerah bencana, seperti kejadian Gunung Agung maupun Lombok sebelumnya di mana kualitas kredit atau pembiayaan yang direstrukturisasi ditetapkan lancar diakui tiga tahun. Sementara kasus virus corona diakui lancar kredit restrukturisasi diakui satu tahun. Penetapan kualitas kredit atau pembiayaan kepada debitur yang terkena dampak penyebaran virus corona dengan plafon sampai dengan Rp10 miliar, ketetapan ketepatan pembayaran pokok dan atau bunga tidak menghitung tiga pilar, sehingga bank diberikan keleluasaan untuk itu.
Disinggung relaksasi berupa kemudahan restrukturisasi dari perbankan dan penundaan pembayaran pokok maupun bunga pinjaman, Sudharma menegaskan perlakukannya dipastikan berbeda. Ia mencontohkan bila ada debitur yang terdampak langsung ada kemungkinan bank memberikan nasabah belum perlu bayar pokok maupun bunga. Begitupula usaha lain yang hanya bisa bayar bunga saja atau ada debitur bisa bayar pokok dan bunga namun kemampuan membayar mereka turun sehingga bank memberikan perpanjangan waktu pembayaran.”Treatment-nya akan berbeda. Tentunya relaksasi kredit diberikan setelah bank melakukan verifikasi untuk benar-benar memastikan debitur terdampak atau tidak,” ujarnya.

Bank pun akan melakukan diskusi dengan debitur terkait mekanisme pembayaran yang tidak memberatkan debitur terdampak langsung maupun tidak virus corona.
“Contoh kredit konsumer bagi pegawai hotel. Perkiraan kemampuan bayar mereka seperti apa, jika bisa bayar bunga, pokok ditunda,” terangnya.Ia pun mengakui tidak ada penghapusan utang. Jika pelaku usaha tidak bayar pokok sesuai POJK dikasih waktu 1 tahun, tetapi kembali lagi bank akan melakukan diskusi kepada debitur.
Pihaknya berharap semoga virus segera berlalu sehingga bank bisa melakukan cash flow pembuatan perkiraan seperti apa.

“Bila selama setahun belum juga ada perbaikan dari sisi pembayaran kredit, tentunya akan ada evaluasi dari otoritas untuk meriview kembali kebijakan apakah akan diperpanjang,” tuturnya.
Berapa banyak debitur yang terdampak langsung maupun tidak virus corona, Sudharma menyebutkan sesuai assesment debitur UMKM paling banyak seperti sektor perdagangan, pertanian maupun sektor lain pendukung pariwisata. Data sementara ada kurang lebih Rp1,3 triliun yang terdampak dan data masih tersu dikumpulkan.*dik

BAGIKAN