Tekan Kerugian, Petani Kurangi Jumlah Produksi di Tengah Pandemi Covid-19

Pengaruh pandemi Covid-19 pada sektor pariwisata turut memberi pengaruh terhadap pariwisata di Bali.

Denpasar (bisnisbali.com)-Pengaruh pandemi Covid-19 pada sektor pariwisata turut memberi pengaruh terhadap pariwisata di Bali. Hal ini pula berdampak serapan produk pertanian, sehingga untuk menekan kerugian petani mengurangi produksi

Ketua Forum Petani Muda Bali AA Wedhatama P, Jumat (14/5) kemarin, mengatakan, saat ini petani hanya memanfaatkan 30 persen lahannya dan lebih memproduksi produk konsumsi sehari-hari seperti sayur. “Sekarang para petani fokus untuk ketahan pangan saja. Tidak seperti sebelum pandemi yang namamnya gila-gilaan, banyak,” ujarnya.

Selain jumlah, lanjut Agung Wedha mengatakan, jenis tanaman juga disesuikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Produksi jenis produk premium yang biasanya disuplai ke sektor pariwisata jauh berkurang. Seperti paprika, selada bulat dan sebagainya hanya diproduksi sedikit untuk memenuhi kebutuhan hotel/restoran yang masih beroperasi.

Dengan demikian, Agung Wedha mengatakan, kerugian petani bisa ditekan. Serapan saat ini jadi lebih baik dibandingkan di awal-awal pandemi sebelumnya. Demikian pula dari segi harga, petani mendapatkan harga yang bagus dan masih untung setelah menutupi biaya produksi. “Dalam artian sekarang kita tidak memikirkan profit terlebih dahulu, seperti sebelum pandemi. Yang penting bisa jalan sambil menunggu situasi membaik,” ungkapnya.

Disingyung soal dominasi suplai yang dilakukan petani, Agung Wedha mengatakan masih maksimal di penjualan dalam jaringan (daring) dengan marketplace Bali Organi Subak (BOS). Permintaan lebih ke ritel yang langsung ke pelanggan. *wid

BAGIKAN