Tawarkan Cita Rasa Baru

PANDEMI Covid-19 sangat menekan perkembangan bisnis kuliner. Tak terkecuali, bisnis keluarga yang sudah ada sejak lama dan memiliki ciri khas, seperti Babi Guling Sembung.

PANDEMI Covid-19 sangat menekan perkembangan bisnis kuliner. Tak terkecuali, bisnis keluarga yang sudah ada sejak lama dan memiliki ciri khas, seperti Babi Guling Sembung. Untuk bertahan, pengelola menggunakan strategi mengembangkan cita rasa baru dengan harga yang lebih terjangkau masyarakat saat ini.

Owner Babi Guling Sembung, 1 Gusti Putu Winawan mengatakan, di awal pandemi, penurunan omzet sampai 80 persen. Pelanggan yang biasanya datang dominan dari pegawai yang bekerja di hotel-hotel. Sejak industri perhotelan mengalami keterpurukan, dan banyak pegawai yang dirumahkan, otomatis pihaknya banyak kehilangan pelanggan. Untuk itu, upaya yang dilakukan adalah membuat menu baru yang lebih mudah digarap dengan harga yang terjangkau.

“Guling samsam yang dibuat baru-baru ini lebih hemat dibandingkan dengan babi guling yang biasanya. Biaya pembuatannya lebih bisa ditekan dan harga yang kami tawarkan tetap sama, yakni Rp 12 ribu per porsi. Harga terjangkau ini mampu diberikan karena kami melakukan prosesnya sendiri, mulai dari memelihara babinya, mengolahnya sampai menjualnya,” ujar Winawan.

Sejauh ini, terdapat empat tempat makan babi guling Sembung di wilayah yang sama. Pemiliknya masih dari kalangan keluarga besar, dengan menu khasnya masing-masing. Salah satunya olahan makanan dari daging ayam. Pelayanan yang diberikan bukan hanya di tempat makan saja, melainkan juga pesanan babi guling utuh dan siap diantar ke lokasi sesuai dengan kesepakatan. Luas tempat makan sembung ini membuatnya lebih mudah mengatur jarak antarpembeli sehingga, protokol kesehatan dapat diterapkan.

Tempat makan yang sudah berdiri sejak tahun 1999 ini memiliki visi untuk mengutamakan kemampuan daya beli masyarakat. Sehingga, masyarakat dari kalangan apa pun mampu menikmati babi guling, yang menjadi salah satu makanan favorit di Bali. Dengan kondisi pandemi, visi tersebut semakin ditekankan. Bukan hanya kesejahteraan pelanggan, melainkan seluruh pegawainya pun diperhatikan.

“Saya berusaha tidak merumahkan karyawan yang sudah lama-lama saya ajak bekerja di sini. Tidak ada pemotongan gaji sama sekali, hanya saja, saat mereka libur, tidak mendapat bayaran. Makan dan minum selama bekerja di sini juga ditanggung, sehingga mampu meringankan bebannya. Intinya, sekarang adalah menjaga kesehatan sebaik mungkin, menjaga kekompakan dengan keluarga. Diharapkan, seluruh masyarakat tetap semangat, selama ada usaha pasti ada hasil. Apa pun yang dilakukan dengan kerukunan, pasti selalu ada jalan,” ujarnya. *git

BAGIKAN