Target Kunjungan Terkoreksi, PAD Tabanan dari Pariwisata Berpotensi Lost 60 Persen  

Pengelola daya tarik wisata (DTW) di Kabupaten Tabanan ramai-ramai melakukan koreksi pada target angka kunjungan wisatawan sebagai dampak dari pandemi Covid-19 tahun ini.

GEDUNG MARIO - Gedung Kesenian I Ketut Maria atau Gedung Mario direncanakan jadi salah satu destinasi yang ditawarkan pada program city tour Tabanan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Pengelola daya tarik wisata (DTW) di Kabupaten Tabanan ramai-ramai melakukan koreksi pada target angka kunjungan wisatawan sebagai dampak dari pandemi Covid-19 tahun ini. Akibatnya, PAD Tabanan yang bersumber dari sektor pariwisata berpotensi hilang (lost) mencapai 60 persen dari total kunjungan wisatawan ke Tabanan yang rata-rata mencapai 5 juta orang per tahun.

“Kehilangan pendapatan tersebut khususnya disumbang oleh DTW yang mengandalkan mass tourism selama ini. Sebab itu, nantinya sektor pariwisata di Tabanan akan mengarah pada wisata private tourism atau exclusive tourism,” tutur Kepala Bapelitbang Kabupaten Tabanan I.B. Wiratmaja, Rabu (12/8) kemarin.

Menurutnya, melalui private tourism maka potensi kehilangan tersebut akan bisa diraih kembali. Terkait itu pula, pihaknya akan menyiapkan objek atau tempat wisata lainnya di Kabupaten Tabanan sebagai penopang yang terhubung dengan sistem elektronik tiket (E-tiketing) terintegrasi.

Mekanismenya nanti, misal bila sebelumnya wisatawan yang datang ke Tabanan mencapai 5 juta orang dengan membanyar Rp 10.000 per orang, maka dengan kunjungan wisatawan yang hanya 2 juta dengan membayar Rp 100.000 per orang melalui E-tiketing terintegrasi, maka jumlah uang yang didapat sebagai penyumbang PAD akan tetap sama dengan sebelumnya. Sementara wisatawan yang datang bisa menikmati lebih banyak obyek yang ditawarkan dalam program E-tiketing terintegrasi.

Bercermin dari kondisi tersebut, jelas Wiratmaja, bila sebelumnya hanya berpikir mengoptimalkan pendapatan daerah dari objek seperti DTW Tanah Lot, Ulun Danu Beratan, dan Jatiluwih maka nantinya melalui private tourism ini potensi wisata lainnya seperti kawasan Nikosake, wisata puri hingga city tour juga akan dioptimalkan sekaligus sebagai penyumbang PAD nantinya.

Di sisi lain, di awal mungkin dari pengembangan private tourism ini butuh waktu untuk bisa mengembalikan posisi pendapatan secara nominal ke posisi sebelumnya. Prediksinya, paling tidak membutuhkan waktu setahun hingga dua tahun, namun untuk jangka panjang seiring dengan pengembangan jumlah objek yang ada, maka pendapatan yang diterima juga akan bertambah. “Sembari melakukan upaya peralihan dari mass tourism ke private tourism, guna menopang PAD juga akan dilakukan upaya lain di luar sektor pariwisata. Misalnya, dari persampahan, dan pajak,” tandasnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, selama ini kontribusi sektor pariwisata di Kabupaten Tabanan mencapai 15 persen atau senilai Rp 130 miliar sekaligus sebagai penyumbang terbesar dari total PAD, dan sisanya atau 85 persen disumbang oleh sektor lain-lain. Artinya, dengan dampak pandemi Covid-19 ini untuk meningkatkan PAD, sebenarnya tidak terlalu berat bagi Pemerintah Kabupaten Tabanan karena di luar sektor pariwisata masih bisa ditingkatkan kontribusinya.

“Memang 85 persen penyumbang PAD ini terdiri dari banyak sektor. Namun jika itu dioptimalkan lagi, maka sektor usaha yang kecil-kecil ini dikali banyak akan sangat membantu dalam penerimaan PAD nantinya,” ujarnya.*man

BAGIKAN