Tantangan UMKM Makin Berat

Awal tahun 2021 memberikan tantangan yang lebih sulit bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk bertahan.

UMKM - Penjualan produk UMKM di salah toko kebaya di Denpasar.

Denpasar (bisnisbali.com) Awal tahun 2021 memberikan tantangan yang lebih sulit bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk bertahan. Berbagai inovasi pun harus dikerahkan di tengah lesunya perekonomian sebagai dampak pandemi Covid-19.

Salah seorang pelaku UMKM di Denpasar, Mirah Krsnayanthi, Senin (8/2), mengatakan, tahun ini diprediksi sebagai tahun bertahan. Peluang pasar khususnya pada produk yang dijualnya, yaitu kebaya, sangat terdampak dengan adanya pembatasan kegiatan keagamaan. “Meski demikian, kita harus bisa survive. Minimal tidak sampai mem-PHK karyawan,” ungkapnya.

Mirah mengaku selalu berusaha berinovasi dengan melihat permintaan pasar. Di samping itu, untuk meminimalisir kerugian, produksi barang juga diukur berdasarkan permintaan, sehingga dalam hal produksi dia mengaku tidak berani terlalu banyak. Selain fokus di oflline dengan beberapa toko yang dimilikinya dan penerapan protokol kesehatan, Mirah gencar melakukan promosi dalam jaringan (daring). “Intinya kita harus terus bergerak, karena jika diam, maka akan makin terpuruk,” ungkapnya.

Saat ini, pihaknya lebih condong memproduksi kebaya dengan harga terjangkau. Hal ini juga disesuaikan dengan kondisi perekonomian masyarakat khususnya di Bali yang masih lesu.

Hal senada diungkapkan oleh pelaku UMKM lainnya, Ni Putu Adnyani. Dikatakannya, kondisi UMKM secara umum cukup terpuruk saat ini di tengah pembatasan-pembatasan yang ada. Terutama bagi pedagang kecil, yang terbatasnya waktu untuk bertransaksi.

Kondisi saat ini lebih sulit dibandingkan pada November 2020 lalu yang pembatasan sudah berkurang, namun tetap dengan penerepan prokes yang ketat. “Menurut saya sosialisasi prokes yang harusnya digencarkan, bukan pembatasan semata. Seperti dulu kan tetap bisa jalan dengan prokes tetap dijaga,” terangnya.

Disinggung soal inovasi yang dilakukan, pelaku UMKM di bidang kerajinan emas dan perak ini mengaku lebih banyak memproduksi produk dengan harga terjangkau serta disesuaikan dengan produk yang tren di pasaran. Sementara untuk produk premium, dia mengaku mengurangi produksi, mengingat perekonomian yang masih lesu. *wid

BAGIKAN