Tanah Tertekan, Trikoderma tak Ditemukan Pertanian Organik Mendesak

Denpasar (bisnisbali.com) - Pertanian organik mendesak untuk diterapkan secara sungguh-sungguh, sehingga Pergub Pertanian Organik yang dibuat Gubernur Bali sangat tepat

AA Sagung Putri Risa Andriani 

Denpasar (bisnisbali.com) – Pertanian organik mendesak untuk diterapkan secara sungguh-sungguh, sehingga Pergub Pertanian Organik yang dibuat Gubernur Bali sangat tepat. Akademisi Pertanian Universitas Warmadewa, Ir. AA Sagung Putri Risa Andriani, M.Si. mengatakan, hasil penelitian menunjukkan sejumlah kawasan khususnya di perkotaan menunjukkan kondisi tanah yang tertekan. Hal tersebut ditunjukkan dengan tidak ditemukannya trikoderma (mikro organisme)  dalam tanah.

Hasil penelitian terhadap tanah sawah di Klungkung khususnya di Kota Semarapura, di Renon dan Panjer Denpasar sama sekali tidak ditemukan trikoderma. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tanah tersebut sudah tertekan. “Bila trikoderma yang ditemukan makin beragam, itu menunjukkan bahwa kondisi lingkungan masih seimbang. Kalau semua mikroorganisme masih bisa hidup beragam, atau makin tinggi indeks keanekaragaman trikoderma itu menunjukkan lingkungan dalam keadaan stabil,” terangnya.

Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian Unwar tersebut menerangkan trikoderma, besar sekali perannya dalam mendekoposisi bahan organik. “Trikoderma ini sangat baik digunakan untuk mendekoposisi bahan-bahan organik dalam pembuatan pupuk organik. Dari hasil penelitian menunjukkan pada tanah-tanah sawah yang tidak menggunakan pestisida, seperti di Jatiluwih yang menggunakan sistem pertanian secara organik, trikodermanya ada beberapa masem, seperti trikoderma aseanum, riseyi, dan lainnya,” ungkapnya.

Dikatakan, akan dilakukan penelitian lebih lanjut terkait trikoderma mana yang lebih cepat mendekoposisi bahan organik. Trikoderma juga dikatakan berperan penting menjadi musuh alami dari mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada tanaman padi. “Ada penyakit blas yang mengakibatkan kerugian besar bagi petani karena tanaman padi menjadi poso (tidak menghasilkan sama sekali). Untuk tahap awal akan membuat isolat trikoderma dari berbagai tanah sawah di Bali, karena akan digunakan di sawah jadi tidak dipergunakan tanah hutan untuk isolat sehingga adaptasinya akan lebih bagus.

Trikoderma banyak ditemukan pada tanah sawah yang masih alami. Trikoderma ini banyak yang kita temukan pada tanah sawah yang menggunakan sistem pertanian terpadu (sipadu)  yang dulu disebut simantri karena mereka menggunakan pupuk kandang dari sapi yang dipelihara.

“Dengan trikoderma ini para petani bisa membuat sendiri pupuk organik dari bahan yang ada di lingkungannya tanpa harus membeli stater maupun pupuk organik dengan harga mahal. Jadi pertanian organik itu murah karena memanfaatkan yang ada di sekitar kita. Syarat pertanian organik itu murah, mudah didapat dan bisa dibuat bersama-sama masyarakat,” tandasnya.

Dikatakan, penggunaan isolat trikoderma tersebut sudah di uji coba pada lahan sawah di Sembung, Badung. “Hasilnya lahan di sekitar yang tidak menggunakan pertanian organik terserang blas, cuma lahan yang menggunakan trikoderma tersebut yang selamat. Inilah bedanya yang menggunakan pestisida dan yang menggunakan trikoderma,” ungkapnya, sambil mengangkat hal tersebut merupakan hasil join reset dengan dosen dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan dosen dari Universitas Malaya Sabah.

Ditegaskan, pestisida itu resisten 25 tahun dalam tanah. “Makanya sekarang banyak orang terkena kanker, itu salah satu dampak dari penggunaan pestisida. Menjaga pertanian berkelanjutan untuk anak cucu kita, maka jagalah mikroorganisme kita di dalam tanah, itu tentara kita untuk memerangi hama dalam tanah,” tandasnya.

Kalau ingin tanah bisa dinikmati anak cucu, maka harus mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Tidak ada istilah terlambat, sehingga produk yang dihasilkan juga sehat. *pur

BAGIKAN