Tak Tergantung Impor, Bali Berpotensi Munuju Swasembada Bawang Putih

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menilai pengembangan bawang putih di Bali cukup prospektif dengan potensi lahan yang luas.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menilai pengembangan bawang putih di Bali cukup prospektif dengan potensi lahan yang luas. Dengan dukungan pemerintah, Bali berpotensi menuju swasembada bawang putih dan tidak lagi tergantung impor.

“Kelompok tani Manik Pertiwi di Desa Wanagiri contohnya. Bawang putih yang dahulu menjadi primadona tanaman pangan lokal daerah ini sempat tidak diminati oleh para petani untuk ditanam, karena kalah dengan keberadaan bawang putih impor yang harganya lebih murah,” kata Kepala KPw BI Bali, Trisno Nugroho di Renon, Jumat (7/8).
Namun demikian, sejak digalakkannya program swasembada bawang putih oleh pemerintah sejak beberapa tahun terakhir, budidaya tanaman ini menjadi kembali dilirik oleh petani untuk dibudidayakan kembali, karena petani melihat komitmen pemerintah dalam mewujudkan hal tersebut, khususnya bagi peningkatan kesejahteraan petani.

“Sesuai program pemerintah, saat ini pengembangan bawang putih diarahkan pada upaya menciptakan potensi pembibitan bawang putih yang kuat secara nasional demi pencapaian swasembada bawang putih,” ujarnya.
Hal ini dilakukan agar Indonesia tidak lagi tergantung pada impor bawang putih asing yang masih mendominasi pasokan di pasar nasional. “Apabila swasembada tercapai, tentunya hal tersebut akan memberikan manfaat bagi penurunan defisit neraca perdagangan, dan mempengaruhi besarnya cadangan devisa baik bagi Bali maupun nasional,” imbuhnya.

Trisno menyampaikan tidak dapat dipungkiri saat ini bawang putih impor masih mendominasi pasokan bawang putih nasional, termasuk Bali. Saat ini, KTT Manik Pertiwi masih fokus pada upaya penangkaran bawang putih dalam rangka penguatan pembibitan. Tentunya jika program ini berhasil dalam menciptakan swasembada, pasar di Bali maupun nasional akan mengonsumsi bawang putih dari hasil panen negeri sendiri karena sudah tidak lagi tergantung dari bawang putih impor. Oleh karenanya dukungan pemerintah melalui kebijakan cukup penting dalam memastikan keberlangsungan budidaya bawang putih.
Siap tidak Bali jadi sentra bawang putih ?. Trisno menerangkan, pada awal pembinaan, KTT Manik Pertiwi dibantu dengan bibit serta alat mesin pertanian, sebagai langkah awal pengembangan budidaya bawang putih di demplot 2 hektare (ha). Hasilnya tidak mengecewakan dengan produktivitas 7,48 ton per hektare (hasil ubinan BPS) dengan mayoritas hasil panen digunakan untuk pembibitan. Pada 2020, kelompok berhasil memanen dari lahan 4 ha dengan produktivitas yang meningkat menjadi 8,3 ton per ha.

“Perkembangan ini cukup menggembirakan karena saat ini kelompok juga memiliki visi sebagai salah satu penangkar benih bawang putih di Bali,” tegasnya.
Menurutnya sebagaimana kebijakan pemerintah untuk membuat sentra-sentra produksi bawang putih nasional, Bali menjadi salah satu daerah yang diharapkan dapat memberi sumbangsih tersebut. Selain itu pemerintah juga saat ini fokus pada upaya pengembangan bibit bawang putih, termasuk dukungan dari APBN. Skema kemitraan yang terjalin dengan importir dan pemberlakuan kebijakan RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura) dapat menjadi terobosan bagi pengembangan bawang putih. Selain itu dukungan baik dalam bantuk peningkatan kapasitas petani, kondisi lahan yang mendukung dan metode budidaya yang tepat, benih yang telah memperoleh sertifikasi, serta kemauan yang kuat petani untuk maju.
“Kami yakini mampu menjadikan Desa Wanagiri kelak menjadi sentra bawang putih di Bali,” ucap Trisno Nugroho.*dik

BAGIKAN