Tak Perlu Panik Borong Masker

Sejumlah orang yang berada dalam pengawasan terkait merebaknya virus corona di Provinsi Bali dan 2 warga Depok yang diduga corona, membuat masyarakat panik dan mulai berburu masker yang menjadi sangat langka dan mahal.

Denpasar (bisnisbali.com) –Sejumlah orang yang berada dalam pengawasan terkait merebaknya virus corona di Provinsi Bali dan 2 warga Depok yang diduga corona, membuat masyarakat panik dan mulai berburu masker yang menjadi sangat langka dan mahal. Melihat kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali  dr. I Ketut Suarjaya mengimbau masyarakat jangan panik  dan memborong masker.

Ditemui di sela-sela sidang paripurna DPRD Bali membahas Ranperda standarisasi penyelenggaraan kesehatan, di rumah rakyat, Suarjaya mengimbau masyarakat tak perlu panik dan borong masker. “Yang sehat tidak perlu pakai masker, saya mau sosialisasikan itu. Jadi tidak perlu pakai masker kecuali sakit atau menengok orang sakit,” tandas Suarjaya, Rabu (4/3) di Renon Denpasar.

Masyarakat, menurutnya harus tahu pasien terjangkit virus corona ini mempunyai kemungkinan sembuh yang tinggi, hingga 98 persen. “Kemungkinan sembuhnya sangat tinggi, bila cepat terdeteksi. Hanya memang penyebarannya sangat cepat,” tukasnya.

Untuk itu ia juga mengimbau masyarakat, selalu menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan sekitar, meningkatkan imunitas tubuh. Karena bila daya tahan tubuh sudah baik, maka tidak ada virus yang bisa menyerang.

Terkait pemanfaatan herbal seperti kunyit, jahe dan temulawak untuk meningkatkan daya tahan tubuh, Suarjaya sangat menganjurkannya. “Selama ini masyarakat kita sangat percaya pada obat Cina. Mulai sekarang kita harus mulai mempercayai ramuan tradisional warisan leluhur kita. Loloh atau herbal ini sebaiknya dikonsumsi kalau memang ingin tetap sehat dan bugar,” tandasnya.

Sementara jumlah pasien dalam pengawasan (menunjukkan gejala, namun masih menunggu hasil lab, red) di RSUP Sanglah ada 3 orang, di RSUD Tabanan 1 orang, di RSUD Sanjiwani Gianyar ada 2 dan RSUD Wangaya 1 orang. Mereka ini mengalami gejala-gejala seperti flu, namun masih dalam observasi. “Kita melakukan dua kali uji lab selama 2 hari,” tukasnya.

Terkait orang dalam pemantauan saat ini jumlahnya ada 13 orang, mereka kebanyakan sempat bepergian ke luar negeri namun tidak menunjukkan gejala seperti dimaksud. “Tetap kita pantau, meskipun semuanya dalam kondisi sehat dan sudah melewati masa inkubasi virus. Semuanya juga sudah dicek lab, dan jika negatif berarti mereka ini sudah clear,” tandasnya.

Jumlah kasus keseluruhan sampai 3 Maret 2020 pasien dalam pengawasan  29 orang  (menunjukkan gejala, namun masih menunggu hasil lab, red). Dari angka tersebut dari hasil lab 22 orang dinyatakan negatif. Tujuh orang masih menunggu hasil lab. Termasuk keluarga orang-orang yang dalam pengawasan, mereka terus dipantau oleh petugas kesehatan.

“Kepada masyarakat, kita ajak untuk menjaga kesehatan dan lingkugan sekitar agar tetap bersih. Virus memang belum ada obatnya sampai saat ini namun kuncinya ada pada imunitas tubuh kita,” pungkasnya. *pur

BAGIKAN