Tak Langgar Prokes, UMKM masih Bisa Berkembang

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) diakui masih bisa berkembang di tengah pandemi Covid-19 saat ini, asalkan mengembangkan inovasi dan kreativitas sesuai kebutuhan pasar yang mengarah ke digitalisasi.

PROKES - Pelaku usaha diminta tidak langgar prokes mendukung pengembangan usaha.

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) diakui masih bisa berkembang di tengah pandemi Covid-19 saat ini, asalkan mengembangkan inovasi dan kreativitas sesuai kebutuhan pasar yang mengarah ke digitalisasi.

SELAIN itu, pelaku usaha jangan melanggar protokol kesehatan (prokes) yang diterapkan pemerintah dalam upaya mendukung meningkatkan Covid-19 atau mencegah klaster baru di tempat usaha. “Pelaku usaha makanan atau usaha lainnya sebenarnya masih bisa beroperasional dan berkembang asalkan patuh prokes. Usaha-usaha yang dilarang adalah mereka yang melanggar aturan,” kata pemerhati ekonomi Kusumayani, M.M. di Renon, Kamis (3/6) kemarin.

Ia mengatakan dari sisi ekonomi pandemi memang membawa dampak kontraksi pertumbuhan ekonomi. Namun pandemi juga membawa peluang bagi UMKM untuk bangkit dengan melakukan inovasi dan kreativitas produk.

Usaha makanan pun diakui sampai saat ini masih berpeluang. Karenanya pengusaha agar tidak terganggu wajib menerapkan prokes mulai jaga jarak di setiap tempat usaha mereka ramai dikunjungi masyarakat. Membatasi jumlah pengunjung yang datang di rumah makan yang dibukanya. “Tidak kalah penting pelaku usaha wajib menyediakan tempat cuci tangan dan sabun,” sarannya.

Sementara itu untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, Gubernur Bali telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 07 Tahun 2021 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Desa/ Kelurahan Dalam Tatanan Kehidupan Era Baru di Provinsi Bali, berlaku sejak 23 Maret 2021 sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Hal lain yang diatur antara lain, kegiatan di restoran/rumah makan/warung dan sejenisnya untuk layanan di tempat dilaksanakan maksimal 50 persen dari kapasitas normal, jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 22.00 Wita, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Masyarakat juga diharapkan agar selalu disiplin melaksanakan 6M seperti memakai masker standar dengan benar, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi bepergian, meningkatkan imun dan menaati aturan serta diimbau untuk tidak berkerumun, dan membatasi kegiatan sosial sesuai dengan aturan yang berlaku.

Ketua DPD Hipmi Bali, Pande Agus Permana Widura mengatakan pengusaha harus dapat menyesuaikan diri dan memiliki kreativitas dalam situasi pandemi Covi-19 untuk mempertahankan bisnis. “Pelaku usaha juga harus melihat potensi ada di masyarakat,” sarannya.

Pelaku usaha harus kreatif, karena peluang bisnis masih terbuka meski pandemi. Inilah tantangan pengusaha beradaptasi sehingga bisa bertahan. Ia pun berharap pemerintah dan perbankan mendukung pelaku usaha beradaptasi dalam upaya mmenggerakkan roda perekonomian. *dik

BAGIKAN