Tahap Awal Penkeskop di Tabanan,  Hanya Satu Koperasi  Dinilai Sehat

Penilaian kesehatan koperasi (Penkeskop) dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tabanan terus berlanjut tahun ini.

DINILAI SEHAT - Penyerahan sertifikan hasil dari Penkeskop dari Dinas Koperasi kepada salah satu koperasi yang mendapat nilai sehat.         

Tabanan (bisnisbali.com) –Penilaian kesehatan koperasi (Penkeskop) dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tabanan terus berlanjut tahun ini. Tahap awal penilaian sudah dilakukan terhadap enam koperasi dari total 599 koperasi yang ada dengan perolehan satu koperasi mengantongi nilai sehat, sisanya memperoleh nilai cukup sehat.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tabanan, I Made Yasa, Selasa (1/6) mengungkapkan, Penkeskop ini merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun untuk menilai kesehatan masing-masing koperasi di Kabupaten Tabanan. Imbuhnya, ini sekaligus sebagai upaya dari dinas untuk mencegah munculnya koperasi sakit atau bermasalah, terlebih lagi di tengah masa pandemi Covid-19 yang telah dirasakan dampaknya pada berbagai sektor usaha saat ini.

Ditambakan Kabid Kelembagaan Dinas Koperasi dan UMKM Tabanan, Ni Nyoman Yudiani, tahap awal Penkeskop baru dilakukan kepada enam koperasi dan dari jumlah tersebut akan terus bertambah lagi nantinya karena penilaian terkait kesehatan pengelolaan koperasi ini terus berproses hingga akhir tahun nanti. Imbuhnya, tahun ini sebenarnya target awal Penkeskop yang sepenuhnya dianggarkan dari Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Koperasi dan UMKM ini dilakukan kepada seratus koperasi, namun karena efisiensi anggaran kegiatan dampak dari pandemi ini target tersebut berpotensi mengalami pengurangan.

Meski jumlah koperasi yang akan dinilai berpotensi menurun, tahun ini pihaknya melakukan perubahan pola penilaian bertujuan untuk memastikan koperasi di Kabupaten Tabanan ini memiliki kinerja atau pengelolaan usaha yang baik dan benar. Katanya, bila tahun sebelumnya usai Penkeskop cukup hanya dengan penyerahan sertifikat hasil penilaian kepada koperasi bersangkutan, tapi kini pola tersebut berubah dengan adanya penambahan menyampaikan langsung ke koperasi bersangkutan terkait sejumlah penekanan dari hasil penilaian kinerja yang dirasa masih kurang dan harus dibenahi.

“Penekanan tersebut khususnya berlaku pada koperasi yang dalam Penkeskop mendapat penilaian kurang, sehingga dengan penyampaian langsung ke mereka bisa memperbaiki lagi kenerja untuk bisa mendapatkan penilaian yang lebih baik nantinya,” tuturnya.

Hasil Penkeskop tahap awal 2021 dari enam koperasi yang dinilai, satu koperasi mengantongi nilai sehat dan sisanya mengantongi nilai cukup sehat. Paparnya, hasil dari Penkeskop ini ada empat. Yakni, koperasi dengan mengantongi nilai sehat, sukup sehat, koperasi dalam pengawasan, dan koperasi dalam pengawasan khusus. Acuannya adalah nilai dari perolehan hasil Penkeskop ini diantaranya adalah mengacu pada penilaian kinerja koperasi yang dilakukan pada 2019 dengan perbandingan 2020 atau sebagai data dasar mengacu pada buku RAT. Selain itu, ada penilaian lain yang mengacu pada data kualitatif. Contohnya, ketentuan SOP yang harus dimiliki masing-masing koperasi, dan juga bukti sejumlah kegiatan semisal rapat rutin setiap bulan.

“Untuk penilaian data kualitatif ini, kami harus lakukan pengecekan langsung ke lapangan karena itu tidak tercantum dalam buku RAT dan koperasi bersangkutan tentunya harus memiliki bukti pendukung terkait data tersebut,” tandasnya.

Sementara itu tambahnya, bagi kalangan koperasi hasil dari Penkeskop ini sangat penting. Sebab, hasil penilain tersebut akan menjadi salah satu acuan bagi calon nasabah koperasi untuk kepercayaan menempatkan simpanan berupa dana. Selain itu bila koperasi ini meminta bantuan permodalan dari kalangan perbankan, biasanya bank akan mensyaratkan salah satunya mengacu pada nilai Penkeskop dari koperasi bersangkutan.

“Bank pasti akan menilai kelayakan koperasi bersangkutan dalam penyaluran kredit permodalan yang acuannya melihat pada nilai Penkeskop. Biasanya koperasi yang mengantongi nilai cukup sehat sudah menjadi kepercayaan bagi bank, apa lagi yang mengantongi nilai sehat. Pastinya itu akan jadi nilai lebih bagi kepercayaan bank,” kilahnya. *man

BAGIKAN