Taati Ketentuan POJK, Dorong BPR untuk Tumbuh

Bank perkreditan rakyat (BPR) dihadapkan dengan persaingan yang begitu ketat dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

TRANSAKSI - BPR melayani transaksi nasabah.

Mangupura (bisnisbali.com)-Bank perkreditan rakyat (BPR) dihadapkan dengan persaingan yang begitu ketat dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Wakil Ketua DPD Perbarindo Bali,  Gusti Ngurah Gede Budiawan mengatakan di tengah tantangan begitu berat BPR wajib mengikuti ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) guna memudahkan BPR untuk tumbuh.

Diungkapkannya, fenomena yang begitu berat dihadapkan BPR dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi terberat bank umum menawarkan kredit usaha rakyat (KUR)  yang menyasar sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). “Padahal nyata-nyata UMKM merupakan pasar utama dari BPR,” ucapnya.

Ngurah Budiawan menjelaskan BPR juga dihadapkan produk lembaga jasa keuangan (LJK) yang lain. Banyak pengurus BPR merasakan  bank umum dan lembaga jasa keuangan lain menghimpit keberadaan BPR.

Direktur Utama BPR Sadana ini memaparkan BPR tidak boleh merasa dihimpit bank umum maupun LJK yang lain. “BPR tidak dihimpit, BPR punyà pasar sendiri dan punya ruang tersendiri untuk  tumbuh,” jelasnya.

Hanya saja untuk bisa tumbuh, pengurus BPR wajib bekerja secara profesional. Manajemen BPR juga wajib berkomitmen dengan waktu dalam melaksanakan fungsi intermediasi.

Kunci terpenting BPR wajib menaati ketentuan POJK. Dengan penerapan POJK, BPR akan makin kuat dalam segala lini.

BPR wajib memiliki kekuatan untuk menghadapi persaingan. Salah satu BPR wajib memenuhi ketantuan modal inti yang dipersyarakatkan POJK.

Ia menambahkan dengan modal kuat BPR memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit. BPR bisa hadir memberikan solusi keuangan yamg terpercaya kepada masyarakat dan sektor UMKM.*kup

BAGIKAN