Stok Menipis, Harga Buah Impor Melambung

Wabah corona yang terjadi di Tiongkok diisukan memberi pengaruh terhadap pasokan buah impor di pasaran karena impor dihentikan sementara.

Denpasar (bisnisbali.com) –Wabah corona yang terjadi di Tiongkok diisukan memberi pengaruh terhadap pasokan buah impor di pasaran karena impor dihentikan sementara. Hal ini membuat harga buah impor mengalami kenaikan signifikan.

Salah seorang pedagang di Pasar Badung Sang Ayu Anggawati mengatakan, saat ini pasokan buah impor ke pasar hanya memanfaatkan stok lama yang keberadaannya mulai langka. Menurutnya, impor buah dari Tiongkok dihentikan sementara akibat wabah corona yang terjadi pada negara tersebut.

Sang Ayu mengatakan, sebagaian besar atau 90 persen buah impor yang dijualnya dipasok dari negara Tiongkok. Saat ini harga buah impor di pasaran melambung. “Semua pada naik sejak info wabah corona itu,” ungkapnya.

Dipaparkannya, harga buah yang mengalami kenaikan signifikan seperti jeruk sankist yang saat ini mencapai Rp90.000 per kilogram dari biasanya hanya Rp30.000 hingg Rp50.000 per kilogram. Demikian juga jenis apel, seperti apel merah dari Rp35.000 naik menjadi Rp50.000 per kilogram. “Termasuk lemon yang saat ini sampai Rp50.000 per kilogram dari biasanya hanya Rp30.000 per kilogram. Jeruk mandarin juga naik dari Rp25.000 menjadi Rp40.000 per kilogram,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh pedagang buah lainnya Jro Wiwik. Dia mengatakan, saat ini stok sudah mulai habis yang berpengaruh terhadap kenaikan harga khususnya buah impor. Dikatakannya, harga jeruk sankits sekarang dijualnya hingga Rp100.000 per kilogram, jeruk mandarin Rp65.000 per kilogram dan jenis apel fuji hingga Rp40.000 per kilogram. “Stok ga ada saat ini. Barang sedikit,” ungkapnya.

Sementara itu, dilansir dari m.detik.com publikasi tanggal 10 Februari 2020, Kepala Badan Ketahan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi mengatakan jika tidak akan mengeluarkan rekomendasi pelarangan impor dari Tiongkok untuk sayur dan buah-buahan. Demikian dia menjelaskan, produk holtukultura tidak berpengaruh sebagai sumber penularan virus. Hanya yang dikhawatirkan dari virus corona tersebut akan mengurangi kebutuhan, lantaran produksi dari Tiongkok terganggu. *wid

BAGIKAN