STIKOM Bali Grup Siap Hadapi RI 4.0

STIKOM Bali grup menyatakan siap menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dengan menciptakan dan mengembangkan berbagai aplikasi baik untuk kepentingan internal maupun eksternal.

KOMITMEN - Para pejabat struktural STIKOM Bali yang berkomitmen siap menghadapi era revolusi industri 4.0.

Denpasar (bisnisbali.com) –STIKOM Bali grup menyatakan siap menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dengan menciptakan dan mengembangkan berbagai aplikasi baik untuk kepentingan internal maupun eksternal. Demikian disampaikan Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan ketika acara coffee morning di kampus setempat, Sabtu (16/11). Turut hadir Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti Prof. Dr. I Made Bandem, MA., Ketua Yayasan Drs. Ida Bagus Dharmadiaksa, M.Si., Ak dan Wakil Ketua Yayasan I Made Malowe Makaradhwaja Bandem, B.Bus.
Dadang mengungkapkan era Revolusi Industri 4.0 atau era digital ditandai dengan sudah dan akan berkembangnya Artificial Intellegence (kecerdasan buatan), Internet of Things (sensor, perangkat pintar), 3D Printing, Robotic, Block Chain, Drone, Virtual Reality, dan Augmented Reality.

“Seluruh civitas akademika di lingkungan STIKOM Bali grup telah siap dan tidak mau hanya jadi penonton atau pengguna saja, tapi berusaha jadi bagian dari pemain dengan telah dan akan melakukan berbagai terobosan atau aktivitas,” ungkap Dadang.
Di antaranya, telah membentuk Inkubator Bisnis Teknologi yang sekarang sedang menginkubasi enam tenant (start up) dan telah mendapat hibah dari Kemenristekdikti sebesar Rp1,7 miliar.
Bersama beberapa alumni mendirikan dan mengembangkan PT Bukaloka Teknologi Indonesia (Bukaloka) yang merupakan aplikasi market place dan e-wallet pertama dan terbesar di Bali serta membentuk Lembaga Inovasi dan Hak Kekayaan Intelektual yang menjaring aplikasi-aplikasi buatan mahasiswa (skripsi/tugas akhir) untuk dikembangkan menjadi komersial.
“Kami terus mengembangkan kolaborasi dengan berbagai pihak demi kepentingan internal maupun eksternal. Kami komit menghasilkan lulusan yang berwawasan internasional dan berjiwa lokal, maka setiap lulusan pun telah dibekali berbagai bahasa internasional (Inggris, Jepang, Mandarin) serta berbagai sertifikasi kompetensi baik nasional maupun internasional untuk memudahkan bermain di era global,” imbuhnya.
Sementara Pembina Yayasan Made Bandem mengatakan pada tahun 2030 mendatang Indonesia akan membutuhkan 17 juta millennials i-tech super canggih yang siap bekerja di berbagai bidang berbasis IT. Hal ini menjadi salah satu tantangan bagi STIKOM grup dan perguruan tinggi lainnya dalam menyiapkan lulusan.
“Ini menjadi perhatian kami, karena begitulah kondisi lapangan kerja yang akan dibutuhkan oleh bangsa ini terkait Revolusi Industri 4.0,” sebut Bandem. Untuk itu pihaknya akan terus melakukan pengembangan kampus, serta menyiapkan berbagai laboratorium dan sarana prasarana pendukung lainnya. *dar

BAGIKAN