“Startup” Madu Tembus Pasar Swalayan

Tidak banyak startup yang bergerak di bidang budi daya madu. Namun, Bali Honey sudah mampu menembus pasar swalayan dan tengah berupaya menembus ekspor

MADU - Pemilik Bali Honey, Ismail menunjukkan madu yang diproduksi.

Denpasar (bisnisbali.com) – Tidak banyak startup yang bergerak di bidang budi daya madu. Namun, Bali Honey sudah mampu menembus pasar swalayan dan tengah berupaya menembus ekspor.

Pemilik Bali Honey, Ismail mengatakan, saat ini sebenarnya banyak wisatawan yang datang ke Bali menjadikan madu berbagai oleh-oleh untuk dibawa ke negaranya. “Tapi untuk ekspor secara langsung memang agak rumit, karena banyak negara yang memberlakukan aturan ketat terkait impor madu. Seperti contoh Australia sangat protektif terhadap madu dari luar negaranya, ini menjadi tantangan bagi kami,” katanya, belum lama ini.

Ia mengatakan, pihaknya selalu berupaya mengontrol mutu karena dipasarkan di swalayan yang terletak di kawasan pariwisata dan kerap dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. “Kami mengontrol mutu, kalau di Standar Nasional Indonesia (SNI) kadar air maksimum 22 kita Bali Honey maksimal 21, bahkan kalau panen yang di Karangasem bisa peroleh madu dengan kekentalan tinggi yaitu dengan kadar air 18-19,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya menjaga madu murni tidak dipasturisasi, karena ada beberapa zat yang mati dalam proses tersebut. “Wisatawan lebih suka madu mentah, tanpa pasturisasi. Kalau prosesnya salah vitamin A dan C-nya mati. Penyaringan juga dengan penyaringan biasa bukan mikro filter, supaya bee polen yang ada dalam madu juga bisa ikut dikonsumsi oleh konsumen,” katanya.

Ia menambahkan, terkait harga 900 gram dipatok Rp208 ribu, madu dengan sarang lebah 350 gram seharga Rp165 ribu, madu biasa 350 gram dibanderol Rp115 ribu dan ukuran terkecil 115 gram dijual Rp47 ribu. “Sebagian keuntungan disisihkan untuk membeli tas dan sepatu bagi anak-anak di dusun. Kadang mereka jalan dua kilometer tanpa sepatu, kita belikan mereka sepatu,” ungkapnya.

Menurut Ismail, madu dengan kualitas bagus tidak ada masa expired namun berdasarkan aturan dinas kesehatan dan syarat pelabelan harus dilengkapi dengan tangan kedaluwarsa. “Kami beri batas waktu kedaluwarsa sampai 2 tahun. Kami juga memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk ikut panen secara langsung sehingga mereka tereduksi. Anak-anak juga bisa datang ke kantor kami untuk memotong sarang lebah dan memasukkan dalam kemasan, ini bisa menjadi wisata edukasi,” katanya. *pur

BAGIKAN