Soal Mutasi Virus Corona, Industri Pariwisata Optimis FCC Bisa Diterapkan

Persiapan program Free Covid-19 Corridor (FCC) tengah dikebut. Program tersebut membangkitkan harapan di tengah terpuruknya pariwisata.

WISATAWAN – Seorang wisatawan mancanegara menikmati kawasan pantai di Jimbaran, Kamis (4/3). Di tengah percepatan program FCC dan vaksinasi, muncul ancaman baru di sektor pariwisata yakni mutasi virus corona.  

Denpasar (bisnisbali.com) –Persiapan program Free Covid-19 Corridor (FCC) tengah dikebut. Program tersebut membangkitkan harapan di tengah terpuruknya pariwisata. Namun, di tengah persiapan FCC dan gencarnya vaksinasi Covid-19, muncul ancaman baru berupa mutasi virus corona. Persoalan ini pun kembali menimbulkan ketidakpastian di sektor pariwisata.

Terkait persiapan FCC dan ancaman mutasi virus corona atau B.1.1.7, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa saat dikonfirmasi, Kamis (4/3) kemarin, mengaku belum berani memberikan tanggapan. Astawa menyatakan, pihaknya masih menunggu perkembangan informasi lebih lanjut.

Sementara itu, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Bali (Bali Tourism Board) Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan, rencana program FCC untuk sementara akan tetap berjalan. “Untuk varian virus baru tersebut kita belum tahu pasti, kita jalan saja dulu. Kalau enggak gitu, akan lambat. Ke depan, bisa saja akan ada lagi varian lain,” ujarnya.

Terpenting saat ini, lanjut dia, vaksinasi Covid-19 tetap digencarkan, karena itu akan mempercepat rencana FCC diterapkan untuk dapat membuka pintu gerbang pariwisata internasional. Vaksinasi Covid-19 menjadi hal penting dalam program FCC ini, sehingga lebih cepat vaksin ini diserbarluaskan ke masyarakat, maka makin cepat pariwisata internasional bisa dibuka.

Disinggung soal progres persiapan FCC di Bali, pria yang akrab disapa Gus Agung itu menjelaskan, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan negara-negara yang siap menjalankan FCC seperti Tiongkok, Dubai dan beberapa negara lainnya. Sejauh ini, Tiongkok sudah memberi respons baik, hanya saja masih ada permasalahan yang membutuhkan pendekatan lebih lanjut. “Pihak negara tersebut (Tiongkok) mensyaratkan wisatawan yang berlibur ke Bali, pulangnya harus karantina 28 hari. Itu yang masih butuh dikomunikasikan dan dilakukan pendekatan,” terangnya.

Secara internal, kesiapan FCC diterapkan jika vaksin sudah selesai diberikan. Paling tidak menurutnya ada 500.000 tenaga kerja pariwisata Bali yang sudah divaksin. Nantinya baik wisatawan luar negeri yang masuk ke Bali dan pekerja pariwisata di Bali dikatakannya sudah mendapatkan vaksin sebagai salah satu syarat dari penerapan FCC ini. *wid

BAGIKAN