Skema Relaksasi Salah Satu Upaya Bank Tekan NPL

Kalangan perbankan mengakui rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) sampai saat ini masih terjaga dengan baik di tengah kasus covid-19 atau virus corona.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kalangan perbankan mengakui rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) sampai saat ini masih terjaga dengan baik di tengah kasus covid-19 atau virus corona.
“NPL kami sampai saat ini masih terjaga di bawah 1 persen,” kata Pemimpin BNI Kanwil Denpasar, Made Sukajaya di Renon, Selasa (21/4).

Menurutnya data NPL sampai Maret masih dalam tahap penyusunan. Kendati demikian secara keseluruhan NPL masih dalam kondisi baik. Dampak corona masih belum terlihat terhadap NPL, tidak tahu mendatang.

Terkait adanya dampak corona yang berimbas kepada dunia usaha kalangan pebisnis, diakui, bank mengacu kepada POJK No.11/POJK.03/2020 tangall 13 Maret 2020, dengan melakukan assessment terhadap nasabah yang terdampak pandemic corona, sehingga dapat memberikan skema relaksasi sesuai dengan kondisi nasabah.

“Stimulus yang diberikan adalah berupa keringanan pembayaran kewajiban berupa pembayaran angsuran pokok dengan perpanjangan jangka waktu kredit, pemberian grace period dan penyesuaian tarif bunga,” ujarnya.

Ia mempertegas skema relaksasi adalah salah satunya untak meminimalisir NPL. Dalam skema ini, direstruktur bisa jadi lancar.
Seperti diketahui dalam surat edaran itu OJK juga menjelaskan, pemberian restrukturisasi dilakukan bila ada permohonan restrukturisasi debitur yang terkena dampak.Adanya penilaian kebutuhan dan kelayakan restrukturisasi dari perusahaan pembiayaan. Kualitas pembiayaan bagi debitur yang terkena dampak ditetapkan lancar sejak dilakukan restrukturisasi.
OJK juga menyebutkan, utang pinjaman tidak bisa dihapuskan karena restrukturisasi bukan penghapusan utang, tetapi memberikan keringanan untuk membayar cicilan utang. Cicilan pinjaman pun tetap harus dibayar namun diberikan keringanan berdasarkan penilaian dan kesepakatan bersama antara debitur dengan bank atau leasing. Pemberian keringanan diutamakan untuk usaha kecil yang terkena dampak covid-19 dengan nilai pinjaman di abwah Rp10 miliar, terutama UMKM, pekerja harian, nelayan, ojek online dan usaha kecil lain yang sejak terkena covid-19 mengalami kesulitan membayar cicilan pinjamaan.

Sementara itu Direktur Utama Bank Mantap, Josephus K. Triprakoso mengatakan, NPL mulai bergerak naik dan salah satu cara menekannya memang harus melakukan restrukturisasi kredit, bisa secara penundaan pokok dan bunga.

Ia menegaskan bank dapat memberikan keringanan berupa restrukturisasi kepada nasabah debitur yang usahanya terkena dampak virus corona. Restrukturisasi tersebut disediakan dalam berbagai bentuk yang disesuaikan dengan kondisi usaha debitur.
“Untuk kalangan pensiunan tidak begitu berdampak karena basisnya fixed income kecuali yang punya usaha dipertimbangkan untuk kita kasih restrukturisasi,” jelasnya.*dik

BAGIKAN