Serapan KUR ke Sektor Pertanian masih Rendah

Serapan kredit program pemerintah dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke sektor produktif, khususnya pertanian di Bali masih sangat rendah

Denpasar (bisnisbali.com) – Serapan kredit program pemerintah dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke sektor produktif, khususnya pertanian di Bali masih sangat rendah. Bercermin dari itu, menurut pengamat perbankan IB Kade Perdana, seiring dengan wacana penurunan suku bunga KUR dari 7 persen menjadi 6 persen pada 2020 nanti, harus dibarengi dengan perluasan penyerapan kredit penguatan modal tersebut ke sektor pertanian dalam arti luas.

“Serapan KUR ke sektor pertanian masih rendah hanya sekitar 18 persen tahun ini. Hal sama juga terjadi untuk serapan KUR untuk sektor industri kreatif yang juga masih rendah saat ini, sehingga mendatang sektor ini perlu mendapat perhatian serius oleh bank penyalur KUR,” tutur Kade Perdana, di Denpasar, Senin (9/12) kemarin.

Terangnya, mendatang porsi penyaluran KUR ke sektor produktif harus ditingkatkan, karena sebagian besar masyarakat di Bali bergelut di sektor tersebut dan selama ini dengan adanya KUR terindikasi belum mampu mendorong pertumbuhan atau daya saing, khususnya pada sektor pertanian di Bali selama ini.

Salah satunya, itu dibuktikan dengan masih tingginya ketergantungan Bali pada sejumlah bahan baku pangan yang didatangkan dari luar atau antarpulau selama ini. Jelas mantan Dirut Bank Sinar ini, ketergantungan yang tinggi ini sangat berbahaya bagi Bali sehingga harus ditekan.

Sambungnya, upaya tersebut sekaligus sebagai cara untuk memperluas kesempatan kerja di Bali, mendorong kontribusi dari sektor pertanian di Bali untuk pendapatan daerah, dan menjaga laju inflasi di Pulau Dewata. Secara hitung-hitungan, menurutnya, jika produksi pertanian bisa dihasilkan di Bali, maka dari harga jual yang didapat oleh konsumen akan jadi lebih murah dibandingkan dengan mendatangkan dari antarpulau.

Di sisi lain, diakuinya, rendahnya serapan KUR ke sektor pertanian ini mungkin terkait dengan selektivitas bank yang menilai tingginya risiko usaha di sektor tersebut, namun hendaknya kalangan lembaga keuangan ini juga tidak lantas lepas tangan dihadapkan pada kondisi tersebut. Sebab, tingginya risiko tersebut bisa topang dengan dengan lembaga penjaminan, dan juga ada program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

“Selain itu untuk mengurangi risiko, perbankan bisa melakukan pendampingan ke sektor pertanian agar bisa melakukan usaha yang efisien dan hasil panen yang baik,” tandasnya. *man

BAGIKAN