Tabanan (bisnisbali.com) – Januari hingga awal Desember 2019, serapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan oleh sejumlah bank di Kabupaten Tabanan mencapai Rp 596.455.742.200. Dari jumlah tersebut, perdagangan besar dan eceran dominan menyerap kredit program yang bersuku bunga 7 persen ini. Nilai akad kredit di sektor tersebut mencapai Rp 253.913.850.000.

Kepala Bidang Ekonomi Setda Kabupaten Tabanan yang sekaligus menjadi tim monitoring dan evaluasi pelaksanaan KUR, I Gusti Putu Ekayana, Kamis (11/12) kemarin mengungkapkan, tahun ini sasaran KUR diarahkan ke sektor produksi. Salah satunya, adalah untuk membiayai sektor pertanian dalam arti luas. Diakuinya, di Tabanan fokus KUR ke sektor produksi ini sekaligus menjadi upaya dalam pengendalian inflasi. Sebab asumsinya, ketika petani memiliki modal usaha, petani akan mampu meningkatkan produksi yang dampaknya akan mendongkrak volume barang di pasaran, sehingga stok yang cukup akan menyebabkan harga jadi stabil.

“Dari data realisasi KUR di Tabanan selama ini, memang terlihat serapan masih terfokus pada sektor perdagangan besar dan kecil. Namun, data tersebut sebenarnya termasuk beberapa mewakili sektor produksi. Sebab, ada sejumlah UKM di sektor perdagangan yang juga terlibat dalam kegiatan produksi pertanian. UKM bersangkutan juga memiliki sawah atau kebun, namun mengajukan kredit sebagai pelaku di sektor perdagangan,” tuturnya.

Jelas Ekayana, data Januari hingga awal Desember 2019 tercatat total debitur KUR di Kabupaten Tabanan mencapai 14.246 dengan total outstanding mencapai Rp 507.810.839.117. Paparnya, serapan KUR di Tabanan menurut sektor usahanya adalah perdagangan besar dan kecil dengan debitur 4.700 dan outstanding mencapai Rp 209.868.583.211.

Sambungnya, peringkat kedua mengarah ke sektor pertanian, pemburuan dan kehutanan dengan nilai akad kredit mencapai Rp 191.931.000.000, dengan 6.150 jumlah debitur dan outstanding mencapai Rp 170.551.324.651. Disusul kemudian industri pengolahan dengan nilai akad kredit mencapai Rp 78.289.000.000 dengan 2.046 debitur dan outstanding mencapai 63.574.396.089.

“Selama tahun ini total ada sebelas jenis sektor usaha yang menyerap program KUR. Dari total jenis usaha tersebut serapan KUR yang terendah adalah mengarah ke sektor konstruksi, karena hanya mencapai Rp 365.000.000 dengan 15 debitur, dan outstanding mencapai 270.313.106,” tandasnya.

Sementara itu, khusus di sektor pertanian yang belum maksimal dalam menyerap KUR, menurutnya kemungkinan disebabkan sektor pertanian yang identik dengan ketergantungan cukup tinggi terhadap kondisi alam. Itu pula yang kemudian jadi pertimbangan bank penyalur untuk lebih selektif dalam penyaluran KUR selama ini. *man

BAGIKAN