Serap Hasil Pertanian, Pemkab Tabanan Alokasikan Rp 600 Juta Lebih per Bulan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan berencana akan meyerap hasil produk pertanian yang dihasilkan oleh petani di daerah lumbung pangan selama pandemi corona (covid-19).

Tabanan (bisnisbali.com) –Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan berencana akan meyerap hasil produk pertanian yang dihasilkan oleh petani di daerah lumbung pangan selama pandemi corona (covid-19). Tak tangung-tanggung pembelian produk pertanian yang jadi salah satu program pangan Serasi untuk menjaga sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat ini mengalokasikan dana Rp 600 juta lebih per bulan yang dimulai pada Juni mendatang.

Kepala Bapelitbang Kabupaten Tabanan, IB Wiratmaja, Senin (4/5) mengungkapkan, guna menjaga situasi psikologis masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 ini adalah bagaimana bisa meningkatkan ketahanan ekonominya. Imbuhnya, khusus untuk di Tabanan sektor yang selalu ditekankan adalah sektor pertanian dalam arti luas, itu mengingat masyarakat Tabanan 45 persen bergelut di sektor pertanian dan karena Tabanan juga diberi berkah yang luar biasa di sektor tersebut.

Jelas Wiratmaja, terkait hal tersebut untuk penanganan sektor pertanian dalam menjaga dan meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat akan dilakukan. Yakni, pertama melalui Family Farming, yaitu gerakan pertanian yang memanfaatkan pekarangan untuk melakukan kegiatan pertanian sederhana seperti tabulapot, hidroponik, dan tumpang sari. Lanjutnya, ke dua melalui Integrated Farming melalui kegiatan Pangan Serasi yang melaksanakan pertanian dari hulu (seperti benih, pupuk, saprodi, sampai pendampingan penyuluh), tengah (melalui pemetaan kantong-kantong produksi), sampai hilir (penjaminan hasil produksi, dan pemasaran).

“Aktivitas di hulu sudah seringkali kami diskusikan dengan Dinas Pertanian dan tampaknya sudah bisa running well, sedangkan di tengah sudah dilakukan pemetaan kantong-kantong produksi pertanian oleh Perusahaan Umum Daerah Dharma Santhika (PUDDS) baik padi, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, jagung, kedelai, dan buah-buahan,” paparnya.
Jelas Wiratmaja, untuk di hilir, selain Pemkab Tabanan melalui PUDDS akan memasarkan produk pertanian ke masyarakat, juga akan melibatkan 6.700 ASN dengan membeli produksi pertanian, terutama yang sangat merasakan dampak. Seperti, peternak yam potong, perikanan, dan UMKM minyak goreng.

Sambungnya, untuk pembelian produk pertanian tersebut dengan pola mengganti 5 persen dari Tunjangan Kinerja (TPP) dalam bentuk hasil produksi pertanian dalam rangka charity, empati, kepedulian, dan unt memutar siklus rantai produksi dan pemasaran hasil pertanian. Menurutnya, secara teknis sangat mungkin itu dilakukan seperti halnya beras.

Dari perhitungannya, penggantian 5 persen dari TPP ini senilai lebih dari Rp 600 jutaan per bulan, atau setara dengan Rp 20 juta per hari yang digunakan untuk membeli hasil produksi pertanian masyarakat Tabanan. Nantinya, paket hasil produksi tersebut akan dikombinasikan berupa ikan atau ayam potong atau pun olahan ikan dan ayam seperti nudget, bakso, fillet, daging potong, telur, dan minyak goreng kelentik. Paket yg disalurkan ke ASN ini nilainya setara dengan Rp 100 ribu.

Sementara itu, tambahnya untuk acuan harga dalam pembelian produk ke petani, menyesuaikan dengan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang didapat dari pemantauan di pasar tradisional. Semisal, bila harga dipasar berlaku dikisaran Rp 23 ribu per kg, maka pemerintah akan membeli ke peternak di bawah harga tersebut namun tidak berada di bawah Rp 20 ribu per kg. Artinya, ada fair trade yang dibangun.*man

BAGIKAN