Sepi Pembeli, Harga Produk Hortikultura Merosot Tajam

Sektor pariwisata memiliki peran penting terhadap serapan produk pertanian di Bali.

BUAH - Penjualan buah di Pasar Badung.

Denpasar (bisnisbali.com) –Sektor pariwisata memiliki peran penting terhadap serapan produk pertanian di Bali. Di tengah covid-19 yang membuat pariwisata Bali mati suri, tentunya memberi pengaruh terhadap menurunnya permintaan hasil pertanian masyarakat, termasuk hortikultura yang saat ini dijual murah.

Hasil pemantauan di Pasar Badung terhadap harga buah lokal dan sayur-mayur hasil pertanian di Bali, sebagaian besar harga jenis produk tersebut turun, bahkan beberapa sangatlah murah.

Salah seorang pedagang sayur Ni Wayan Murni, saat ditemui mengatakan, banyak harga sayur yang turun saat ini. Seperti halnya sayur hijau yang biasanya Rp25.000 per kilogram turun menjadi Rp8.000 per kilogram. Wortel impor yang biasanya hingga Rp35.000 per kilogram menjadi Rp16.000 per kilogran dan wortel lokal yang biasanya Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram turun menjadi Rp12.000 per kilogram. Demikian juga paprika yang biasanya Rp50.000 hingga Rp60.000 per kikogram saat ini hanya Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Brokoli yang biasanya Rp50.000 per kilogram turun menjadi Rp35.000 per kilogram serta bunga kol yang biasanya Rp40.000 per kilogram menjadi Rp25.000 per kilogram.

Menurut Wayan Murni, turunnya harga dikarenakan permintaan yang sangat sepi saat ini. Dia mengaku penjualannya lebih mengandalkan sektor pariwisata dan restoran. “Sekarang hotel-hotel pada tutup, permintaan jadi jauh menurun,” ujarnya sembari mengatakan, saat ini hanya mengandalkan kebutuhan rumah tangga yang permintaannya tidaklah banyak.

Hal senada juga diungkapkan oleh pedagang buah, Jro Wiwik. Saat ini, keberadaan buah lokal cukup melimpah, di tengah musim panen. Seperti manggis, alpukat hingga jambu biji dan jambu kristal yang membajiri pasaran. Namun, pada musim panen ini, sangatlah tidak memberikan harga bagus terhadap huah lokal. Seperti halnya manggis yang saat ini di pasaran hanya dijual Rp10.000 per kilogram. Biasanya bisa mencapai Rp20.000 per kilogram, meski saat musim.

Menurutnya, selain ekspor yang terbatas saat ini, dampak covid-19 terhadap pariwisata juga memberi pengaruh anjloknya harga buah. “Biasanya buah lokal, terutama manggis diambil oleh hotel-hotel untuk dijadikan sajian pada kamar-kamar tempat tamu menginap. Sekarang karena tamu tidak ada, permintaan buah lokal pun tidak ada,” ujarnya.

Saat ini, Jro Wiwik mengaku hanya melayani permintaan eceran serta penjualan secara online. Tentunya ini tidak seberapa jika dibandingkan permintaan saat pariwisata masih bergerak. *wid

BAGIKAN