Sempat Jadi Usaha Turun Temurun, Perajin Arak di Desa Cau Belayu Terus Berkurang

SEMPAT menjadi usaha yang ditekuni secara turun temurun, kini perajin arak di Desa Cau Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan sudah jauh berkurang.

SEMPAT menjadi usaha yang ditekuni secara turun temurun, kini perajin arak di Desa Cau Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan sudah jauh berkurang. Hal ini sangat disayangkan, terlebih di tengah upaya Pemerintah Provinsi Bali mengangkat salah satu minuman tradisional lokal tersebut.

“Pada 1980-an hingga 1990, pembuatan arak di Desa Cau Belayu ini memang banyak diusahakan sebagai kegiatan turun-temurun. Namun karena perkembangan zaman jumlah tersebut mulai bergeser dengan mengalami penurunan,” kata Perbekel Desa Cau Belayu, I Putu Eka Jayantara, Kamis (19/11).

Menurutnya, berkurangnya perajin arak juga dipicu risiko usaha yang tinggi karena harus memanjat pohon untuk mendapatkan bahan baku. Perajin arak yang dulunya berjumlah hingga puluhan orang, kini sesuai hasil pendataan desa hanya mendapati 5 perajin saja. Rinciannya, 1 perajin di Banjar Sribupati, dan 4 perajin di Banjar Padang Aling.

Para perajin arak dominan berproduksi untuk memenuhi kebutuhan yadnya. Selain itu, beberapa juga digunakan sebagai minuman dan obat.

Sementara itu, salah seorang perajin arak di Banjar Padang Aling, Desa Cau Belayu, Made Ruma mengungkapkan, saat ini jumlah perajin arak sudah jauh menurun dari sebelumnya. Penurunan tersebut juga sebabkan karena permintaan pasar yang sedikit, terlebih lagi di tengah pandemi Covid-19.

Kini rata-rata produksinya hanya mencapai 4 botol per hari, jauh menurun dari kondisi sebelum pandemi Covid-19 yang bisa mencapai puluhan botol per hari. Saat ini dominan permintaan pasar akan arak hanya untuk kebutuhan upacara yadnya dan obat. Sedangkan kebutuhan arak untuk dikonsumsi sudah jarang.

“Permintaan pasar ini sebagian besar hanya untuk pasar lokal Tabanan saja dalam jumlah kecil. Meski begitu saya tetap berproduksi arak setiap hari,” ucapnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, dari bahan baku 25 botol tuak ketika diolah menjadi arak dengan kadar alkohol 60 persen (kualitas bagus) akan mendapati 2 sampai 3 botol arak. Harga yang dibanderol untuk arak kualitas bagus ini mencapai Rp 50.000 per botol. Di sisi lain, dari jumlah bahan baku yang sama untuk diolah menjadi arak kualitas dua (kadar alkohol di bawah 50 persen) akan menghasilkan 5 botol arak dengan harga dibanderol Rp 30.000 per botol.

Sementara itu, Kasi Pengendalian dan Pengawasan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tabanan, Dewa Gede Sutaryawan mengungkapkan, dari pendataan terkait jumlah perajin arak di Kabupaten Tabanan yang dilakukan seiring dengan terbitnya Pergub No.1 tahun 2020 terkait minuman khas Bali, didapati di Kabupaten Tabanan ada  sejumlah perajin arak yang masih eksis hingga kini. Salah satunya terdapat di Desa Cau Belayu, Kecamatan Marga sebanyak 5 orang perajin.

Pembuatan arak dilakoni secara perorangan dan masih tradisional. Selain itu, perajin arak juga terdapat di Perean Kangin, Kecamatan Baturiti. “Rata-rata usaha tersebut sudah digeluti lama atau sekitar dari 1940 silam. Dalam proses produksinya masih manual,” ujarnya.

Dia mengakui, pendataan belum maksimal, karena pendataan yang dilakukan pada Februari lalu terpaksa harus dihentikan akibat adanya pandemi Covid-19. Bercermin dari kondisi tersebut, pendataan perajin arak kemungkinan akan kembali dilanjutkan pada tahun mendatang sekaligus disertai dengan upaya pendampingan dari pemerintah. *man

BAGIKAN