Selama Pandemi, Harga Beras di Tabanan Stabil

Selama pandemi Covid-19 yang telah memasuki bulan kedelapan masih mengkondisikan harga gabah di tingkat petani dan harga beras di tingkat usaha penggilingan di Kabupaten Tabanan rata-rata berada di kisaran stabil.

Tabanan (bisnisbali.com) – Selama pandemi Covid-19 yang telah memasuki bulan kedelapan masih mengkondisikan harga gabah di tingkat petani dan harga beras di tingkat usaha penggilingan di Kabupaten Tabanan rata-rata berada di kisaran stabil. Kondisi tersebut salah satunya diakibatkan menurunnya permintaan pasar, di tengah volume produksi panen yang stabil.

Pelaku usaha penggilingan padi di Tabanan sekaligus juga Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali, A.A. Made Sukawetan, Minggu (18/10) kemarin, mengungkapkan, sebelumnya harga gabah di tingkat petani sempat naik ke level Rp 5.000 per kg untuk kualitas gabah kering panen (GKP) khususnya pascamusim panen lalu. Namun sejak sepekan terakhir, harga gabah sudah kembali turun ke level Rp 4.800 per kg kualitas yang sama. Begitu pula untuk harga beras cenderung stabil dengan berada di kisaran Rp 93.000 per kg sampai Rp 94.000 per kg.

“Harga gabah di tingkat petani ini yang Rp 4.800 per kg ini bisa dibilang berada di kisaran stabil. Sebab normalnya harga di Bali memang berada di kisaran Rp 4.700 sampai Rp 4.800 per kg. Tidak pernah berada di bawah dari harga tersebut,” tuturnya.

Kata Sukawetan, stabilnya harga dipicu oleh menurunnya serapan pasar akan beras, khususnya dari kalangan hotel dan restoran yang di tengah pandemi Covid-19 mengalami penurunan angka kunjungan atau tamu. Selain itu, serbuan beras antarpulau ke Bali yang masuk dengan sangat murah juga membuat harga gabah di tingkat petani jadi ikut menyesuaikan, dan terakhir ini stabilnya harga ini disumbang oleh bantuan beras dari pemerintah pusat dengan menyasar setiap keluarga yang terdaftar dalam program keluarga harapan (PKH).

“Program PKH ini mendapat tambahan alokasi mencapai 15 kg beras per bulan untuk jangka tiga bulan yakni Agustus sampai Oktober. Semua faktor tersebut tentu memberi andil pada stabilnya harga gabah dan beras selama pandemi Covid-19 ini,” tandasnya.

Sementara itu, dalam menyikapi penurunan permintaan pasar akan beras, pihaknya melakukan sejumlah upaya. Di antaranya, kini seiring dengan turunnya luasan produksi padi, kondisi tersebut diimbangi dengan menurunkan volume serapan gabah di tingkat petani dari yang rata-rata normal mencapai 15 ton per hari, kini turun dengan hanya menyerap maksimal 5 ton per minggu.

Selain itu, penurunan juga dilakukan pada proses penggilingan gabah, yang sebelumnya mencapai 5 ton produksi beras per hari, kini produksi beras atau proses penggilingan hanya dilakukan di kisaran maksimal 3 ton per hari. Membatasi volume penggilingan membuat stok gabah yang disimpan di gudang cukup banyak atau sekitar 50 ton. Sebelum distok di gudang, tentunya gabah hasil produksi petani ini harus melewati proses pengeringan untuk menjaga kualitas, sehingga gabah yang disimpan masih layak konsumsi hingga umur simpan mencapai 1 tahun.

“Gabah untuk stok ini maksimal harus memiliki kandungan kadar air 14 persen. Bila kadar air di atas itu atau semisal di kisaran 16 persen, kemungkinan akan membuat gabah ketika diproses giling menjadi beras akan menjadi kuning dan kualitasnya menjadi kurang baik,” kilahnya.*man

BAGIKAN