Selain Dilibas Dampak Covid-19, Produk Ekspor Bali pun Terhambat Transportasi

Kondisi pandemi Covid-19 ini dinilai lebih parah dibandingkan krisis moneter di Indonesia tahun 1998 lalu.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kondisi pandemi Covid-19 ini dinilai lebih parah dibandingkan krisis moneter di Indonesia tahun 1998 lalu. Ketua Badan Pengurus Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Provinsi Bali, Dolly Suthajaya mengatakan akibat pandemi Covid-19 banyak pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menutup operasional akibat turunnya permintaan pasar.  Akibat dampak pandemi Covid-19 pelaku industri tekstil di antaranya ada yang memilih bertahan dan ada pula yang  putar setir beralih usaha lain.

Ia menjelaskan bagi pelaku industri tekstil bertahan tentu harus menanggung beban bulanan yang besar. Untuk itu, sebagian besar pelaku industri tekstil Bali memilih merumahkan karyawan. “Kondisi Covid-19 ini lebih parah dibandingkan krisis moneter di Indonesia tahun 1998,” ucapnya.

Suthajaya menyampaikan pelaku TPT di Bali yang masih bertahan memilih beralih menjadi produsen Alat Pelindung Diri (APD). Produk yang diproduksi industri TPT saat Covid-19 seperti masker, baju hazmat.

Dolly Suthajaya menambahkan industri TPT di Bali masih sulit menggarap pasar ekspor dalam masa pandemi Covid-19. Ekspor produk tekstil masih sulit karena serapan pasar tujuan ekspor masih lemah dan ongkos pengiriman produk ekspor  yang masih tinggi

Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bali, Panudiana Kuhn mengatakan ekspor produk pertanian dan perikanan di Bali terhambat masih sulitnya transportasi udara.  Diungkapkannya, pengiriman produk pertanian baik buah, sayur,  termasuk DOC melalui transportasi udara. Sama dengan produk perikanan seperti benih ikan juga wajib menggunakan transportasi udara.

Kuhn mengakui pengiriman produk pertanian perikanan umum menggunakan fasilitas kargo atau bagasi pesawat. ” Dalam kondisi normal sebelum Covid-19, sudah mengirim hampir 5 kali benih ikan ke pasar mancanegara ,” ucapnya.

Panudiana Kuhn menambahkan ekspor benih ikan khususnya masih terkendala penerbangan ke negara pasar belum pulih pascapandemi Covid-19. Untuk itu, eksportir produk perikanan ini menggunakan pesawat charter ke negara pasar seperti ekspor benih nener ke Manila menggunakan pesawat charter.

Ketua ALFI/ILFA Provinsi Bali, A.A. Bagus Bayu Joni Saputra hambatan pengiriman produk ekspor melalui jalur darat akibat pemerintah merencanakan angkutan barang dengan konfigurasi lebih dari 2 sumbu (termasuk trailer) hanya dibolehkan melintas di  jalan nasional Denpasar – Gilimanuk pukul 22.00-pukul 04.00 waktu setempat.

ALFI meminta kemudahan pengiriman produk ekspor melalui jalur Denpasar-Gilimanuk melihat pengangkutan barang ekspor dengan angkutan laut Benoa – Tanjung  Perak belum didukung oleh fasilitas yang memadai.

A.A. Bagus Bayu Joni mengungkapkan upaya meminta kemudahan angkutan peti kemas masih melalui jalur darat  dikarenakan kedatangan kapal di Benoa belum terjadwal dengan pasti. Pada bagian lain ketersediaan depo container masih terbatas.

Transportasi peti kemas lewat laut melalui Pelabuhan Benoa belum berjalan optimal. Kapal yang melayani rute  untuk rute Surabaya-Benoa dan Benoa-Surabaya sudah beberapa mengalami keterlambatan. Keterlambatan tersebut praktis menyebabkan keterlambatan pengiriman produk ekspor Bali ke Surabaya.

Bayu Joni yang  juga Wakil Ketua Umum  Kadin Bali Bidang Logistik dan Forwarding mengharapkan pemerintah untuk mempertimbangkan kembali pembatasan angkutan peti kemas melalui jalur Denpasar-Gilimanuk sehingga tidak menghambat pengiriman produk ekspor Bali. *kup

BAGIKAN