Sektor Pertanian dan Akmamin Peluang Topang Perekonomian Bali

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menilai terjadi pergeseran antara kontribusi pertanian dan sektor usaha akomodasi makanan dan minuman (akmamin) dalam peta ekonomi di daerah ini.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menilai terjadi pergeseran antara kontribusi pertanian dan sektor usaha akomodasi makanan dan minuman (akmamin) dalam peta ekonomi di daerah ini. Itu terlihat pada triwulan II/2020, kontribusi pertanian mulai naik.

“Bila sebelumnya, kontribusi akmamin di porsi ekonomi Bali bisa sampai 21 persen bahkan lebih, kini sektor akmamin 17 persen. Sementara di sektor pertanian sebelum ada covid hanya 11-13 persen kini naik menjadi sekitar 16 persen,” kata Kepala KPw BI Bali, Trisno Nugroho.

Menurutnya bila kondisi ini bisa dipertahankan terus, maka ke depan bisa saja pertanian bertumbuh beriringan dengan sektor akmamin. Alhasi kedua sektor tersebut bisa sama-sama menopang perekonomian Bali. Hal ini penting, sebab jika salah satu sektor mengalami perlambatan maka bisa didukung sektor lainnya.
“Apalagi Bali selama ini, ekonominya didominasi dari sektor pariwisata. Ketika terjadi chaos, maka turut menyeret sektor lainnya,” ujarnya.

Layaknya ketika bom Bali, erupsi Gunung Agung, hingga penyebaran pandemi covid-19 yang menghantam ekonomi Bali. BI mendata, dari perhitungan BPS Bali dampak Covid-19 menerjunkan kian dalam perekonomian Bali. “Pada triwulan II/2020 minus 10,98 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang minus 1,14 persen (yoy),” ungkapnyanya.
Pulau Dewata bahkan menjadi wilayah merah untuk pertumbuhan ekonomi, dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Untuk itu ia berharap ke depan sektor pertanian dan pariwisata bisa berjalan beriringan.
Terkait hal tersebut Direktur Utama BPD Bali, I Nyoman Sudharma mengakui, pertanian ke depan bisa berdampingan dengan pariwisata sehingga saling mendukung. Itu sesuai anjuran pemerintah agar hasil pertanian di Bali digunakan oleh industri seperti industri pariwisata.

Bank lokal milik krama Bali ini pun diakui sangat konsen dengan sektor pertanian di Bali. Dukungan perbankan yaitu dari sisi pengembangan dan kemudahan akses perbankan bagi sektor pertanian dan UMKM. Harapanya, kedua sektor ini kian berkembang di Bali ke depannya.
“Tentunya sektor pertanian harus didorong untuk digitalisasi ke depannya, mengingat banyak petani dan pelaku UMKM, yang memiliki produk namun bingung memasarkannya,” terangnya.

Ia mencontohkan salah satu dukungan bank dengan mendorong nasabahnya seperti petani di Bangli agar menerapkan agrowisata selain menjajakan hasil pertanian saja, sehingga usahanya lebih berkembang. Termasuk, penggunaan transaksi nontunai dengan QRIS. Sistem digitalisasi dalam pembayaran tersebut bukan hanya membayar, tetapi memesan barang juga bisa menggunakan QRIS dari BI.
Digitalisasi juga, diharapkan dapat menginspirasi kaula muda untuk beralih menjadi petani modern. Setelah hasil taninya jadi dan usahanya jalan. “BPD Bali di sini bisa memberikan pembiayaan untuk pengembangan usahanya dengan pembiayaan melalui program KUR,” paparnya.*dik

BAGIKAN