Saatnya Menata Pertumbuhan Ekonomi lebih  ’’Resilience”

MOMENTUM Kebangkitan Nasional pada 20 Mei kemarin  menjadi momen yang baik bagi Bali untuk menata kembali strategi pertumbuhan ekonomi yang lebih resilience atau berdaya tahan. Ada empat dimensi resilience yang patut dilakukan.

MOMENTUM Kebangkitan Nasional pada 20 Mei kemarin  menjadi momen yang baik bagi Bali untuk menata kembali strategi pertumbuhan ekonomi yang lebih resilience atau berdaya tahan. Ada empat dimensi resilience yang patut dilakukan.

Seperti dikatakan Kepala Perwakilian Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho di Denpasar, Kamis (20/5) kemarin, empat dimensi resiliensi perekonomian yakni sensitivitas terhadap guncangan, kecepatan recovery, tingkat adaptasi dan renewal of the growth path. “Kami melihat peluang Bali dalam mencapai resiliensi sangat besar,” katanya.

Kenapa demikian, Trisno menyampaikan pertama, Bali memiliki potensi pertanian (tabama, perkebunan, peternakan dan perikanan) yang tersebar di masing-masing kabupaten/kota. Sektor pertanian yang memiliki pangsa terbesar kedua dalam perekonomian Bali berpotensi menjadi source of growth engine pada periode pandemi mengingat sektor ini juga memiliki risiko penularan covid yang tergolong rendah. Kinerja ekspor komoditas pertanian juga relative baik di masa pandemi.

“Namun tidak dapat dipungkiri bahwa produktivitas pertanian di Bali selama ini mengalami penurunan. Hal ini terkait dengan pertanian di Bali yang cenderung konvensional,” paparnya.

Untuk dapat bangkit, kata dia, perlu adanya modernisasi pertanian, atau yang dikenal dengan digitalisasi pertanian dari sisi hulu hingga hilir. Hal ini tentunya juga harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas SDM, baik yang eksisting maupun generasi penerusnya. Dukungan regulasi juga diperlukan, terutama dalam hal insentif investasi di sektor pertanian dan anggaran pengembangan sektor ini.

Kedua, perkembangan sektor ekonomi kreatif di Bali sangat baik, sehingga kontribusi sektor ini tercatat meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fashion, kuliner, kriya merupakan unggulan dari ekonomi kreatif Bali. Jumlah UMKM yang bergerak dalam ekonomi kreatif juga tercatat cukup besar. Ke depan, sektor ini dapat terus dikembangkan dengan mengedepankan digitalisasi yang berpegang pada prinsp kearifan lokal (Tri Hita Karana).

Ketiga, reorientasi sektor pariwisata. Peranan sektor pariwisata terhadap perekonomian Bali sangat besar, dan ke depan perlu ada reorientasi dalam pengembangan sektor pariwisata. Protokol kesehatan dalam kerangka CHSE perlu terus diperkuat, untuk menciptakan kepercayaan terhadap pariwisata Bali.

“Selama border belum dibuka, pariwisata domestik diharapkan dapat terus digarap mengingat pasar wisatawan Indonesia yang keluar negeri (outbound tourist) bisa menggantikan wisman yang ke Bali,” paparnya.

Menurut hasil simulasi, 75 persen outbound tourist setara dengan 91 persen devisa Bali tahun 2019 dan berpotensi meningkatkan TPKH hingga 23 persen. Selain itu, perlu digarap MICE domestik yang dilaksanakan oleh Kementerian dan lembaga serta perusahaan-perusahaan besar di Jawa. Di samping itu pelaksaaan program work from Bali.

“Kebangkitan pariwisata Bali melalui reorientasi mass tourism menjadi qualiy tourism, didukung oleh berbagai potensi Bali (Sport, Medical, Education dan Special Interest Tourism),” jelasnya.

Keempat, peningkatan peranan fiskal dalam pemulihan ekonomi, yakni dalam hal front loading anggaran dan mengoptimalkan fungsi countercyclical.

Kelima, transformasi digital. Secara nasional, Presiden Joko Widodo menekankan Urgensi Digitalisasi Ekonomi sebagai upaya menuju Visi 2045 – Indonesia Negara Maju. Dalam konteks regional, transformasi digital harus diperkuat baik dari sisi pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat sehingga tercipta suatu ekosistem digital.

“Digitalisasi UMKM yang selama ini dilakukan, harus terus dikembangkan dan diperkuat, mengingat >90 persen pelaku usaha di Bali adalah UMKM,” ucap Trisno. *dik

BAGIKAN