Saat Ini Krisis Ekonomi atau Resesi Ekonomi?

Ketidakseimbangan neraca pembayaran (defisit) dapat mengakibatkan krisis ekonomi, tetapi belum tentu mengakibatkan resesi ekonomi.

Denpasar (bisnisbali.com) –Ketidakseimbangan neraca pembayaran (defisit) dapat mengakibatkan krisis ekonomi, tetapi belum tentu mengakibatkan resesi ekonomi. Krisis ekonomi dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Jika perlambatan pertumbuhan ekonomi sampai menunjukkan angka negatif, hal ini dapat mengakibatkan resesi ekonomi,” kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, M. Setyawan Santoso di Renon.

Pengamat ekonomi BI ini menyebutkan, ada tiga pengertian yang memiliki makna yang hampir sama yaitu krisis, resesi dan depresi. Ketiga kata tersebut dapat diikuti dengan kata ekonomi. Krisis ekonomi atau lawan kata dari stabilitas ekonomi adalah suatu kondisi ketidakstabilan di bidang ekonomi.

Ketidakstabilan dimaksud dapat tercermin dari ketidakseimbangan antara produksi dengan konsumsi, ketidakstabilan neraca pembayaran baik yang berasal dari barang (neraca perdagangan) maupun arus modal (neraca modal/finansial) serta ketidakseimbangan lapangan kerja dan lainnya.

Setyawan Santoso menerangkan, resesi ekonomi adalah perlambatan kinerja perekonomian hingga menunjukkan pertumbuhan negatif selama dua triwulan berturut-turut. Krisis ekonomi biasanya diikuti oleh menurunnya beberapa indikator perekonomian seperti pertumbuhan ekonomi, penurunan produksi, kenaikan impor dibandingkan ekspor, ketenagakerjaan, inflasi dan lain-lain.

Depresi ekonomi adalah kondisi resesi ekonomi yang terus-menerus dan sangat mendalam sehingga mengakibatkan seluruh kegiatan ekonomi terpuruk hingga titik terendah.

Bagaimana depresiasi dapat mengakibatkan resesi? Emsan biasa ia disapa mengutarakan, kinerja ekspor yang memburuk dan ketergantungan terhadap impor yang tinggi menyebabkan kenaikan nilai impor jauh lebih besar dari kenaikan ekspornya sehingga mengakibatkan defisit neraca pembayaran.

Defisit ini merupakan salah satu penyebab tekanan terhadap nilai tukar rupiah sehingga nilai rupiah mengalami penurunan nilai (depresiasi). “Karena depresiasi seorang importir harus membayar lebih mahal sejumlah barang yang sama.  Karena depresiasi, seorang debitur harus membayar cicilan utang lebih mahal atas nilai valas yang sama,” ujarnya.

Tidak heran, kata Emsan, jika depresiasi menyebabkan beberapa perusahaan merugi atau bangkrut karena tidak sanggup membayar bahan baku impor atau membayar utang. “Akibatnya beberapa perusahaan terpaksa berhenti beroperasi, memberhentikan karyawannya atau bahkan gulung tikar,” imbuhnya.

Jika masalah ini terjadi secara masif, akan terjadi penurunan produksi besar besaran yang dapat memacu kenaikan harga (inflasi). Di sisi lain terjadi pula pelemahan daya beli masyarakat akibat banyaknya pengangguran yang dapat menimbulkan krisis sosial politik.

“Krisis ekonomi, krisis sosial dan krisis politik dapat menyebabkan resesi ekonomi yaitu perlambatan kinerja perekonomian hingga mencapai angka negatif selama minimal dua triwulan dalam satu tahun,” tegasnya. *dik

BAGIKAN