Rupiah Melemah, Bali Alami Resesi?

RESESI ekonomi adalah perlambatan kinerja perekonomian hingga menunjukkan pertumbuhan negatif selama dua triwulan berturut-turut.

LENGANG - Akibat serangan corona, sektor pariwisata terpuruk. Tampak suasana lengang di salah satu hotel berbintang di Bali.

RESESI ekonomi adalah perlambatan kinerja perekonomian hingga menunjukkan pertumbuhan negatif selama dua triwulan berturut-turut. Krisis ekonomi biasanya diikuti oleh menurunnya beberapa indikator perekonomian seperti pertumbuhan ekonomi, penurunan produksi, kenaikan impor dibandingkan ekspor, ketenagakerjaan, inflasi dan lain-lain.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, M. Setyawan Santoso menyampaikan, sebenarnya terminologi resesi berlaku bagi perekonomian suatu negara, bukan di suatu provinsi.

Bali adalah bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia. Pada saat arus wisatawan tinggi, Bali menyumbangkan banyak devisa dari ekspor jasa. Sebaliknya, pada saat perekonomian Bali melambat, pemerintah pusat akan mengucurkan berbagai stimulus untuk menanggulangi perlambatan.

Stimulus fiskal I dikucurkan pada awal Februari 2020 berupa insentif pariwisata termasuk subsidi penerbangan. Stimulus fiskal II berupa relaksasi pajak penghasilan dan pajak hotel dan restoran. Namun pelaksanaan stimulus ini tertunda melihat perkembangan terkini yang mendorong pemerintah menerapkan program work from home, phisical distancing, dan lock down.

Di sektor keuangan, pemerintah pusat meluncurkan program restrukturisasi pembiayaan dan kemudahan pembiayaan khususnya UMKM.

“Sudah pasti bagi daerah terdampak covid-19 seperti Bali, pemerintah pusat akan memberikan stimulus dan insentif untuk membangkitkan kembali sektor-sektor yang terpuruk sehingga resesi tidak akan terjadi,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Setyawan, pemikiran yang inovatif dan kreatif baik dari pemerintah maupun pelaku usaha diperlukan untuk mempertahankan atau setidaknya menahan perlambatan perekonomian Bali.

Saat ini, secara umum seluruh sektor dalam perekonomian Bali mengalami perlambatan akibat terdampak pada covid-19. Meskipun demikian, ada sektor yang terdampak minim bahkan sedikit meningkat. Pertama di sektor pertanian.

Kata Emsan biasa ia disapa, pertanian terdampak minim karena tidak terkait langsung dengan dunia eksternal. Masih banyaknya produksi padi, palawija, sayur-mayur lokal menyebabkan harga bahan pokok yang terkendali hingga inflasi Februari 2020 mencapai 3,55 persen.

Terjadinya penutupan lalu lintas manusia dan barang di Bali, kata dia, justru memberikan peluang agar masyarakat Bali dapat mengkonsumsi produk produk lokal.

Kedua sektor digital. Sektor ini terkait erat dengan sektor riil karena memungkinkan kita melakukan transaksi tanpa adanya kontak fisik. Kebijakan phisical distancing memaksa masyarakat untuk melakukan transaksi pembayaran dan pengiriman barang melalui media kurir yang keduanya sangat tergantung pada peranan digital ekonomi.

Ketiga, sektor start-up. Sektor ini adalah kegiatan kreatif dan inovatif dengan menggunakan teknologi digital yang masuk ke dalam berbagai dunia usaha. Dengan terhentinya sejenak berbagai aktivitas perekonomian di berbagai sektor, sektor-sektor usaha baru akan dapat bersaing lebih leluasa karena nanti pada saat semua berakhir, tidak ada lagi usaha yang lama dan usaha baru.

“Pelaku usaha yang maju adalah mereka yang dapat berusaha secara lebih efisien,” ucapnya.

Apakah pelemahan nilai tukar kini berdampak pada pertumbuhan ekonomi Bali? Disampaikannya, pelemahan nilai tukar tidak akan berdampak signifikan bagi perekonomian secara keseluruhan, namun berdampak mendalam bagi sektor akomodasi makan dan minum (hotel dan restoran) serta sektor perdagangan.

Hal ini makin terasa mengingat sektor perhotelan dan restoran saat ini sudah menerima dampak negatif dari adanya virus corona. “Di suatu sisi terjadi penurunan permintaan kamar akibat merosotnya jumlah wisatawan mancanegara. Di sisi lain terjadi kenaikan biaya akibat pelemahan nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Skenario terburuk menunjukkan, perekonomian Bali terdampak cukup mendalam karena sebagian besar perekonomian Bali terkait dengan sektor pariwisata. Dengan adanya wabah corona, perhatian tercurah sepenuhnya untuk menjaga kesehatan warga dengan program work from home, phisical distancing, dan terakhir lock down. Program ini membawa konsekuensi terhambatnya bahkan terhentinya beberapa kegiatan ekonomi khususnya sektor perhotelan, restoran, perdagangan dan transportasi.

Sebagai konsekuensi, jumlah kedatangan pendatang berdasarkan international arrival menurun 97 persen yang membawa dampak menurunnya tingkat hunian hotel hingga 13,7 persen, menurunnya pengunjung restoran, sepinya pusat perdagangan dan pasar yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian secara keseluruhan.

Sebagai akibat dari program ini perekonomian Bali dengan pertumbuhan negatif, khususnya pada triwulan II dan III tahun 2020. “Jadi perlambatan perekonomian terjadi bukan karena pelemahan nilai tukar tetapi lebih disebabkan terjadinya pandemi covid-19,” jelasnya.

Pertanyaan kini, bagaimana di Indonesia akankah resesi? Setyawan Santoso menyampaikan, bila memperhatikan kinerja nasional neraca pembayaran hingga Februari 2020, masih terjadi peningkatan pertumbuhan ekspor baik produk pertanian, pertambangan dan manufaktur. Namun kondisi perekonomian global yang mengalami perlambatan menyebabkan pertumbuhan ekspor dipastikan melambat.

Sebagaimana ekspor, di sisi impor juga terjadi perlambatan pertumbuhan khususnya pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku. Perlambatan ini diperkirakan akan berlanjut seiring dengan terhambatnya pengiriman barang dari dunia khususnya Negara-negara yang terjangkit virus corona. Depresiasi rupiah menuju level 16.000 menyebabkan importir harus membayar biaya lebih mahal sekitar 10-20 persen untuk memperoleh bahan baku dalam jumlah yang sama.

“Diperkirakan akan terjadi penundaan bahkan pembatalan impor barang modal dan bahan baku impor sehingga sebagian perusahaan akan tutup setelah melakukan pemutusan hubungan kerja karyawannya,” terangnya.

Dibandingkan dengan depresiasi yang terjadi pada krisis 2008, saat itu rupiah terperosok dari 9.161 per dolar AS pada September menjadi 12.650 per dolar AS pada Desember 2008 atau terdepresiasi sebesar 38 persen, maka depresiasi pada saat ini masih lebih rendah.

“Pada Januari nilai rupiah Rp13.800 per dolar AS dan merosot menjadi Rp16.000 per dolar AS, maka rupiah terdepresiasi 17 persen,” ungkapnya.

Pada masa krisis 2008, pertumbuhan ekonomi melambat dari 6 persen pada 2008 menjadi 4,6 persen pada 2009.  “Tentu saja pada 2020 ini, kita harus memperhitungkan adanya faktor corona yang mengakibatkan terhentinya proses produksi dan distribusi di saat diberlakukannya social distancing dan lock down,” sarannya.

Diakui, jika diasumsikan proses ini akan terjadi selama 2 bulan, faktor corona diperkirakan menyebabkan perlambatan ekonomi 0,2  dari pertumbuhan semula. Para ahli ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat dari 5,02 persen pada 2019 menjadi antara 4 persen hingga 4,5 persen. “Artinya, Indonesia tidak akan mengalami resesi,” tegasnya. *dik

BAGIKAN